KEKUASAAN DAN PENTINGNYA NURANI
Pemerhati Sosial Keagamaan, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya
Minggu-minggu ini kita disuguhkan praktik bagi-bagi
kekuasaan yang cukup menjadi perhatian banyak orang. Di satu sisi penetapan
adanya penetapan 26 anggota dewan pertimbangan Presiden (Wantimpres) padang
yang 2 Oktober 2026 berdasar Keputusan Presiden RI
Nomor 107/P Tahun 2026, dan di sisi yang berbeda adanya rapat MK
kaitan dengan keabsahan atau tidak adanya ijazah Gibran, yang melahirkan
keputusan bahwa MK tidak menemukan cukup bukti yang meyakinkan bahwa Gibran memiliki
Ijazah setingkat MS/sederajat, tapi kedudukannya sebagai Wapres tidak bisa
didiskualifikasi.
Dua
kejadian ini menarik, namun kaitannya dengan Wantimpres memang tidak bisa
diperdebatkan sebab bagian dari otoritas tertinggi Presiden. Tapi, tidak sedikit
masyarakat memang mempersoalkan masuknya orang-orang yang lantang mengkritik
pemerintah. Nama Rocy Gerung, misalnya, banyak menjadi cibiran berbagai pihak
di media sosial sebab sikapnya yang lantang mengkritik pemerintah, bahkan
pemerintahan sebelumnya. Kata-kata “dungu” seringkali di alamatkan kepada
Gerung. Tapi itulah pilihan politiknya masuk kekuasaan. Apakah ia tetap
memberikan kritik dalam merespon kebijakan pemeritah? Ditunggu saja, biarkan
sejarah yang mencatat sepak terjang para pengkritisi pemerintah, ketika
akhirnya masuk kekuasaan.
Sementara
yang kedua kaitan dengan ijazah, penulis hanya “ngedumel” dalam hati. Kok bisa?”
kenapa dipersoalkan setelah menjabat?. Tapi, bila melihat keputusan MK, maka
semakin memberikan petunjuk ternyata bahwa sistem demokrasi di Indonesia sudah
menyandang “penyakit akut” yang luar biasa. Penyakit akut ini bukan hanya soal masih
belum maksimalnya proses implementasi substansi demokrasi yang selalu
diharapkan oleh rakyat dalam setiap pergantian kepemimpinan bangsa melalui lahirnya
keputusan populis; soal hak hidup, kesamaan hak di depan hukum, kesejahteraan
rakyat dan lain-lain. Tapi, kali ini lebih terjebak pada demokrasi prosedural
di mana peran KPU dan BAWASLU/PANWASLU sangat menentukan dan benar-benar
berkeadilan bagi semua. Tidak salah bila kedua lembaga ini ikut dipanggil dalam
sidang MK, mengingat keduanya mestinya bertanggung jawa kaitan syubhatnya ijazah
Gibran sehingga lolos syarat pencalonan sebagai cawapres.
Tulisan
ini tidak mau menyoal soal dua kasus di atas, tapi ingin menjelaskan bahwa
kekuasaan sangat membutuhkan kekuatan nurani tingkat tinggi sebab ia berkaitan
dengan hajat orang banyak, belum lagi soal fasilitas yang diakibatnya disinyalir
menggiurkan pada perebut kekuasaan. Semakin tinggi tingkat kekuasaan
diperebutkan, semakin tinggi pula kebutuhan atas nurani sebagai pandu dalam
berkuasa. Bahkan di level kekuasan yang paling rendah sekalipun, misalnya RW-RT,
bila tidak menjadikan nurani pengabdian sebagai pemandu, maka sangat
dimungkinkan juga fungsinya kurang bermanfaat.
Cukup
beralasan bila Sosiolog Muslim, IBNU Khaldun dalam bukunya “Muqadimmah”nya mengatakan: bahwa kekuasaan
adalah jabatan terhormat yang diinginkan banyak orang. Untuk kepentingan itu,
semuanya dilakukan dalam rangka memperjuangkan hingga mempertahankan jati
dirinya. Yang sudah berkuasa selalu menggunakan cara apapun asal memiliki daya
untuk membangkitkan fanatisme demi agar kekuasaan tetap dipegang. Ibnu Khaldun mengajarkan
kaitan karakter penguasa, sekaligus kekuasaan sehingga yang berkontestasi di ruang
ini harus berhati-hati agar tidak menggerus eksistensi dirinya sebagai manusia
sejati secara fungsional, yakni khairunnas anfa ‘uhum linnas.
Kenyataan
ini yang kemudian, kekuasaan sangat penting bersandingan dengan nurani.
Siapapun penguasanya dan pada level apapun ia berkuasa, bila bersamaan dengan
nurani mengabdi yang kuat ketika berkuasa, maka ia akan memastikan perwujudan
kemaslahan sosial berada pada posisi tertinggi, dari pada kemaslahatan pribadi,
keluarga ataupun kelompok. Sebaliknya, ketika nurani itu pudar, jangan berharap
ada kebijakan untuk rakyat kecil, jangan berharap pendidikan murah, jangan
bermimpi ada layanan kesehatan gratis dan lain-lain. Parahnya, bila miskinnya nurani
terjadi dalam setiap proses kontestasi agar menghalalkan segala cara untuk kemenangan
dalam merebut kekuasaan.
AJARAN FALSAFAH JAWA
Nurani
adalah laksana kompas yang dapat memandu seseorang bertindak sesuai dengan
semestinya. Ia memiliki kemampuan untuk membedakan apakah tindakan itu benar
atau salah. Pastinya, pilihan benar dan bermanfaat ini menjadi petanda bahwa nurani
seseorang itu kuat. Jika memilih tindakan salah, bahkan sudah tahu berpotensi
merugikan banyak orang, maka sejatinya ia sedang tidak bernurani, walau secara
akademik berpendidikan tinggi.
Dalam
falsafah Jawa, kita disuguhkan banyak nilai kearifan lokal agar kiranya memiliki
kesadaran tinggi untuk menjadi individu yang bernurani tinggi, ketika kekuasaan
yang sudah dikuasai. Pertama, falsafah “Memayu
Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro”. Dengan bebas falsafah ini
diartikan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk “memperindah dan
menjaga keselamatan dunia lahir dan batin, serta memberantas angkara murka.”
Falsafah
ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang berkuasa, tapi juga bagi semua
individu. Hanya saja, bagi yang berkuasa ini sangat ditekankan sebab efek
kekuasaan sangat besar pengaruhnya bagi masyarakat. Penguasa yang mati
nuraninya selalu lupa akan komitmen ini, yakni komitmen untuk menjadikan kekuasaan
yang diembangnya dalam rangka mewujudkan keselamatan dunia baik lahir maupun batin
di satu sisi, dan disini yang berbeda memberantas kemungkaran. Karenanya,
penguasa yang bermental korup akan lebih banyak memikirkan kepentingan diri,
keluarga hingga kelompoknya, alih-alih memikirkan kesejahteraan untuk wong
cilik sebagai prioritas.
Kedua,
falsafah “Sopo wonge sing adigang adigung
adiguno, bakal diasorake marang kuasane pengeran”. Dengan arti yang bebas, “Setiap
orang yang berkuasa tapi berlagak sombong (dengan potensi kekuatan, kekuasaan,
atau kepandaiannya), niscaya suatu saat direndahkan oleh kekuasaan Tuhan.
Falsafah ini mengingatkan kepada siapapun yang berkuasa bahwa kekuasaan duniawi
bersifat sementara dan ketahuilah bahwa kekuasaan Tuhanlah yang menggerakkan
segalanya sehingga sombong ketika berkuasa adalah merebut kekuasaanNya sehingga
tergilas dengan sendirinya sebagaimana banyak fakta-fakta sejarah runtuhnya “Penguasa
yang Sombong dan Otoriter” dengan cara-cara yang mengenaskan.
Pada
akhirnya, kekuasaan bukanlah milik pribadi. Ia adalah amanah yang selalu
memiliki batas waktunya. Hari ini seseorang mungkin berada di atas, tetapi esok
ia bisa berada di bawah. Hari ini seseorang dapat membuat keputusan bagi orang
lain, tetapi suatu saat ia sendiri mungkin menjadi orang yang merasakan akibat
dari keputusan tersebut. Yang berkuasa, mari jadikan kekuasaan itu sebagai
sarana investasi kebaikan untuk orang banyak sehingga dapat meninggalkan legasi
kepemimpinan yang populer baiknya, bukan populer buruknya.
.....
gambar dikutip dari:
https://peluangnews.id/republik-kursi-empuk-seni-membungkam-pengkritik-dengan-jabatan/

Leave a Comment