Sang Penjaga Anak Kampung Itu… (In Memoriam Dr. H. Misbahul Munir, MM)
Mukani
PNS Pemerintah
Provinsi Jawa Timur, tinggal di Jombang
“Pak Misbahul Munir (dulu dosen Ushuluddin IAIN Sunan Ampel
Surabaya) meninggal dunia. Akan dimakamkan di makam keluarga Banyuwangi. Meninggal
jam 14.00 tadi.”
Itu adalah pesan yang masuk ke nomer saya dari seorang
teman di Pasuruan, Hery Fadhoil, tepat hari Senin 8 Juni 2026 pukul 14.31 WIB.
Saat melaksanakan tugas lembur di kantor, seolah rasa duka mendalam dalam benak
saya. Sedih dan sangat merasa kehilangan dari sosok almarhum Dr. H. Misbahul
Munir, MM.
Pria kelahiran Banyuwangi tanggal 1 Desember 1967 ini terakhir mengemban tugas sebagai dosen tetap Fakultas Dakwah UIN KH Ahmad Shidiq Jember. Dengan jabatan fungsional terakhir Lektor Kepala dan pangkat Pembina Tingkat I, IV/b. Pendidikan terakhir doktor ekonomi diraih dari Universitas 17 Agustus Surabaya. Meskipun S-1 ditempuh di Jurusan Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Kediri dan S-2 Ekonomi di Universitas Jember.
Pengawal
Saya secara personal mengenal sosok Pak Misbah
di pertengahan Agustus 1999, sesaat setelah lulus dari Madrasah Aliyah
Syafi’iyah Seblak Jombang. Saat itu saya sudah diterima di Jurusan PAI Fakultas
Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sementara masih menempati di Mushola Nurul
Qomar Ngagelrejo Utara.
Oleh H Daryanto Kediri, guru saya di SMPN Rejoso
Nganjuk, saya diberi amplop putih yang berisi surat tulisan tangan. Di depan amplop
itu tertulis Kepada Yth Pak Misbahul Munir, dosen Fakultas Ushuluddin IAIN
Sunan Ampel Surabaya. Pak Misbah adalah yunior H Dariyanto di organisasi
ekstrakampus saat S-1 di Kediri dulu. Intinya, menurut H Daryanto, saya “dititipkan”
ke Pak Misbah agar bisa lulus S-1 di Surabaya.
Saya pun juga belum tahu sosok yang hendak
dituju dari amplop itu. Namun setelah tanya sana sini kepada para teman
mahasiswa baru, saya memperoleh informasi beliau adalah salah satu pejabat di
Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM). Akhirnya saya pun memberanikan menemui
beliau di kantornya yang berada di sebelah ruang fokotopi di gedung Fakultas
Ushuluddin itu.
Setelah amplop dibuka dan dibaca, beliau
menuturkan bahwa saya harus menemui keponakannya bernama Anwar dari Banyuwangi semester
VII Fakultas Syariah (KH Anwar Sholeh Azzarkoni, sekarang Sekretaris PCNU
Kabupaten Madiun). Setelah dua hari pencarian, barulah di hari ketiga saya
bertemu Anwar di masjid kampus. Padahal saat itu posisi saya belum makan sama
sekali.
Akhirnya saya diajak ke Mushola Baitul Jannah
Margorejo Stal, seberang depan Kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Barulah sore
harinya saya diajak makan oleh keponakan Pak Misbah itu. Tentu dengan mamasak
nasi terlebih dulu di cepitan barat mushola. Alatnya dengan kompor manual
berbahan bakar minyak tanah. Lauknya pun diberi dari warga sekitar.
Musholah Baitul Jannah, akhirnya menjadi tempat berproses
dan berjuang saya selama 1999-2005. Sejak masuk S-1 hingga lulus S-2. Mulai
dari aktivitas mengajar di TPQ, mengimami shalat lima waktu, rutinan tahlil,
hingga insidentil kegiatan pemuda sekitar. Tidak jarang Pak Misbah menjenguk kami
ke mushola sederhana itu. Karena dua keponakan Anwar juga ikut tinggal di
Mushola Baitul Jannah itu. Tentu biasanya Pak Misbah sambil menanyakan, Mukani
kemana?
Saat di kampus IAIN pun, saya sering sowan ke
beliau di kantornya. Bahkan saat beliau menjabat sebagai Sekretaris Kopertais
Wilayah IV Surabaya, yang kantornya di selatan Fakultas Syariah itu. Suatu kesempatan
saya pernah diajak makan siang bersama di kantin IAIN dan pulangnya diberi uang
saku Rp 50.000,- Jumlah yang tidak kecil untuk ukuran mahasiswa saat itu.
Obrolan di ruang kerja beliau terkadang saya
hanya curhat dan sekedar laporan tentang perkembangan studi. Termasuk kondisi
saat tinggal di Mushola Baitul Jannah. Dan juga peluang-peluang beasiswa yang
mungkin bisa saya manfaatkan. Bahkan di tengah obrolan, Pak Misbah ternyata
teman akrab Pak Subhan, guru saya di Pesantren Seblak. Akhirnya, beliau berdua
pun bisa silaturahmi kembali lewat telpon setelah saya berikan nomer keduanya.
Suatu ketika, di dalam kantornya sudah penuh
sesak para yuniornya di organisasi ekstra kampus dulu. Saat itu, Pak Misbah
masih shalat Dzuhur. Para yunior itupun dengan sinis mempertanyakan keperluan saya
sowan pejabat selevel Pak Misbah. Namun setelah shalat Dzuhur, Pak Misbah tanpa
sengaja langsung menjelaskan. “Mukani itu kader saya yang sekarang jadi tangan
kanannya Gus Solah di Pesantren Tebuireng,” ujarnya saat itu. Para tamu pun
akhirnya terdiam semua.
Pak Misbah adalah sosok yang merekomendasikan
saya untuk membantu mengajar di kampus STIT (sekarang IAI) Al-Urwatul Wutsqo
Bulurejo Jombang. “Tolong Sampean bantu Ning Tib (Prof Dr Hj Istibsjaroh),
beliau barusan mendirikan kampus di Jombang,” pesannya di pertengahan 2006.
Setelah bertemu Prof Istibsjaroh di rumahnya
belakang kampus IAIN, setengah tidak percaya saat saya memperkenalkan diri
sebagai “orang suruhan” Pak Misbah. Prof Istibsjaroh pun langsung menelepon Pak
Misbah dengan posisi langsung HP loudspeaker
di depan saya.
“Mas, ini ada orang Nganjuk ngaku kadere Sampean
untuk bantu saya ngajar di kampus Jombang, apa benar?” tanya Prof Istibsjaroh.
“Iya Ning, arek iku sakjane pinter, tapi ora pinter perkoro lobi,” jawab Pak
Misbah dengan terkekeh. Akhirnya, saat itu, saya diperintahkan Prof Istibsjaroh
atas kesepakatan dengan Pak Misbah untuk dua pekan sekali membantu mengajar di
Jombang. Perintah itu hingga sekarang masih saya laksanakan.
Pak Misbah pula yang kemudian mendorong saya
mengurusi kepangkatan dan jabatan fungsional dosen tetap ke Kopertais IV. Meski
saat itu saya sudah berstatus PNS sejak 1 April 2006. Akhirnya pun turun SK Menteri Agama RI Nomor
095/KP.07.1/KOP.IV/2008 tanggal 19 Febuari 2008. Di dalamnya tertuang saya menjadi
dosen tetap sejak 1 Oktober 2007 di STIT (sekarang IAI) Al-Urwatul Wutsqo
Bulurejo Jombang mata kuliah Sosiologi Pendidikan dengan angka kredit 150 dan
jabatan Asisten Ahli (III/b).
Jelang pernikahan,
saya pun sowan ke rumah beliau untuk mengundangi beliau. Akhirnya beliau dan
istri bisa hadir di pernikahan kami tanggal 23 Juli 2010 di Surabaya. Bahkan
menunggui saya melaksanakan akad nikah.
Dalam obrolannya
dengan KH Sumanan Hidayat saat itu, rekan beliau di organisasi ekstrakampus,
beliau tidak pernah memprediksi jika saya bisa lulus S-2, menjadi dosen dan
bisa jadi PNS. “Padahal dulu saya prediksi anak kampung kayak Mas Mukani bisa
lulus S-1 saja sudah bagus,” ujarnya sambil tertawa.
Saya merasakan Pak Misbah sebagai figur yang
terus memotivasi kader yuniornya seperti saya untuk terus berkontribusi positif
lewat profesi yang dilakukan. Tidak heran jika suatu ketika beliau tidak
menyetujui saya melamar jadi dosen PNS yang akan ditugaskan di sebuah kampus.
“Wong saya sebagai Sekretaris Kopertais IV saja sudah pusing memikirkan konflik
internal di kampus itu kok kamu mau
tugas di sana, cari kampus yang lain saja,” pesannya suatu ketika.
Setiap karya buku saya terbit, saya masih
menyempatkan diri untuk mengirimkan beberapa ke alamat kantornya di UIN Jember.
Itu sebagai bentuk sedikit terima kasih atas “penjagaan dan pendampingan”
beliau kepada saya. Sejak masuk IAIN Surabaya tahun 1999 hingga sekarang.
Saya terakhir berkomunikasi dengan beliau
sekitar satu bulan lalu. Saat malam hari mengirimkan foto saya saat sowan bersama
KH Ainun Naim, tetangga saya yang menjadi Rais Syuriah Ranting NU Desa
Kayangan. Kiai yang mengajar di Aliyah Tebuireng ini ternyata teman akrabnya
Pak Misbah saat berorganisasi di Kediri.
Keesokan harinya Pak Misbah telpon saya lama
ngalor ngidul menceritakan kenangannya bersama KH Ainun Naim dan H Daryanto,
bapak angkat saya, saat masih berorganisasi di Kediri. Beliau juga menanyakan
kabar saya sekeluarga. Saya pun juga begitu. Beliau akhirnya minta didoakan
agar bisa segera sehat karena sedang terkena penyakit stroke.
Kini, Pak Misbah sudah pergi untuk selamanya. Tentu banyak kadernya yang berduka dan merasa kehilangan. Semoga ke depan banyak lahir sosok Pak Misbah lainnya yang memberikan banyak peluang kesempatan kepada para yuniornya. Amin....
Lahul Fatihah…

Leave a Comment