SANG KIAI, TELADAN YANG SEDERHANA
“Setiap hari
Jum’at, seperti biasa di pondok sejak penulis nyantri terdapat tradisi ro’an
yang dilakukan secara turun-temurun. Tidak tahu, kapan tradisi ini dilakukan. Biasanya
dilakukan secara bergantian setiap Jum’at, yakni bergantian antar komplek
dengan area yang dibersihkan sesuai dengan ketentuan setiap Jum’at. Di waktu itu, penulispun tidak
ketinggalan sebab kali ro’an ini menjadi kewajiban komplek Darus Sholah (area
depan Musholla) membersihkan tempat wudhu dan sekitarnya. Darus Sholah adalah tempat
penulis berproses di komplek ini sejak tercatat sebagai santri baru, lantas
berpindah ke Darul Falah, Darus Salam, dan baru setingkat Tsanawiyah selama
tiga tahun kembali ke komplek Darus Sholah.
Di tengah
asyiknya para santri membersihkan tempat wudhu dan jeding, Sang Kiai memantau sambil
berkeliling pondok pesantren untuk melihat semua area pondok pesantren dan
gedung-gedung madrasah. Tidak hanya itu saja, tidak jarang beliau dengan tangannya
sendiri –yang lembut penuh berkah-- mengambil sampah-sampah yang masih belum
terlihat dan belum tersentuh oleh santri yang ro’an untuk dimasukkan tong sampah,
seperti sampah sisa plastik sampo, rinso dan lain-lain. Menariknya, kaos oblong
putihnya selalu membersamai Sang Kiai setiap kali aksi nyata ini. Kaos oblongnya
telah menjadi saksi bisu, bagaimana istiqamah Sang Kiai bukan hanya di
Mushollah dan Majelis Ta’lim, tapi juga istiqamah juga untuk memastikan
kebersihan pondok pesantren benar-benar nyata dengan terlibat aksi nyata dengan
penuh keasyikan bersama para santrinya, setidaknya dalam kegiatan ro’an Jum’atan.”
………………….
Tafsir
Keteladanan
Cerita di atas adalah salah satu dari cerita
teladan dari Sang Kiai di masa hidupnya, yang menjadi pengamatan penulis sepanjang
menimba ilmu di bawah asuhan sang Kiai Alim yang Sederhana ini. Apa yang
diteladankan memiliki makna yang sangat penting bagi kita semua, khususnya para
santri-santrinya. Pertama, tentang pentingnya kebersamaan dan kesederhanaan. Sang
Kiai memberikan contoh betapa kebersamaan itu penting, begitu juga
kesederhanaan dalam hidup sebab keduanya akan menumbuhkan hubungan mendalam
dalam keharmonian interaksi sosial dengan siapapun.
Sekalipun Sang Kiai memiliki kedudukan yang sangat
prestisius dengan kealiman ilmunya dan kharismanya di tengah masyarakat, beliau
sangat sadar betul bahwa santri adalah bagian dari dirinya sehingga
berinteraksi dengan santri harus dilakukan secara menyeluruh dan utuh. Bukan hanya
dalam ruang resmi rutinan, seperti sholat berjama’ah di musholla dan majelis
ilmu saja, tapi juga bersama para santri dalam praktik tradisi ro’an, semacam hari
bersih-bersih pondok yang dilakukan bersama setiap Jum’at.
Menariknya, menurut penulis, Kaos oblong yang dipakai
Sang Kiai setiap kali ro’an, menggambarkan kesederhanaannya, sekaligus bagaimana
Sang Kiai sedang berkomunikasi secara simbolik dengan tidak menjaga jarak dengan
para santrinya sebab baju yang dipakai setidaknya sama dengan baju yang dipakai
mayoritas para santri. Sang Kiai bisa saja memakai baju kebesaran dengan jubah
putih sebagai dipakainya disetiap menjadi imam sholat suubuh berjama’ah atau
baju putih dan sarung serta surban sebagaimana dipakainya dalam menjadi imam
selain sholat subuh, sekaligus mengisi pengajian pagi dan siang.
Dari kaos oblong ini bisa ditarik pelajaran agar
siapapun orangnya yang berinteraksi dengan yang lain, terlebih sebagai guru,
dosen, ustadz dan elite-elite sosial lainnya, untuk tidak menjaga jarak dengan
yang lain atau orang yang dihadapi agar interaksi lebih nyaman, santuy dan
tidak tegang. Di samping sebagai potret kesederhanaan, cara memakai kaos oblong
Sang Kiai menunjukkan bahwa sentuhan lawan intekrasi sosial dengan simbol-simbol
yang dekat dengan audiens sebab dengan itu apa yang disampaikan akan mudah dicernah,
dan selanjutnya diterima. Contoh konkritnya, mereka yang menjadi pejabat, misalnya,
yang memakai baju kebesaran dengan baju resmi dan bersepatu necis melakukan turba
ke masyarakat, berbeda dengan pejabat yang memakai baju sederhana, apalagi baju
yang dekat dengan rakyatnya alias tanpa pamer kekayaan.
Keduanya, memberikan contoh aksi nyata. Ketika Sang
Kiai, keliling pondok setiap kali ro’an sambil mengambil sampang –tanpa merasa
gengsi__ mengajarkan bahwa memerintah dengan cara mempraktikkan sekaligus,
memiliki daya sentuh yang luar biasa dari pada hanya memerintah saja. Pasalnya,
memerintah, tapi tidak aksi memberikan daya tarik yang kurang maksimal, untuk
tidak mengatakan sulit dilakukan. Hal ini mengingatkan ungkapan imam al-Ghazali dalam kitabnya
Bidayatul Hidayah sebagai berikut:
لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ
مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ، وَطِبَاعُ النَّاسِ إِلَى الْمُسَاهَمَةِ فِي الْأَعْمَالِ
أَمْيَلُ مِنْهَا إِلَى الْمُتَابَعَةِ فِي الْأَقْوَالِ
“Dan bahasa perbuatan (keadaan) lebih fasih
daripada bahasa ucapan. Dan tabiat manusia lebih cenderung untuk mengikuti
tindakan daripada sekadar meniru perkataan.”
Dari sini, kita layak belajar betapa keteladaan
aksi itu jauh lebih penting dari pada banyak bicara. Bukankah, kurang
maksimalnya perubahan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara saat
ini salah satunya disebabkan tidak satunya teori dengan praktik atau tidak
satunya perkataan dengan perbuatan. Ketika para elite langsung memberikan
teladan aksi, sebelum mereka memerintahkan, misalnya, maka dapat dipastikan
rakyat akan mudah mengikutinya, setidaknya lepas dari kasak kusuk perdebatan di
akar rumput.
Akhirnya, malam ini (24 Syawal 1447 H), Haul yang ke 16 Sang Kiai dilaksanakan, sekaligus Haul Sang Istri Beliau yang ke 15, yakni Haul KH.R. Abdul Mujib Abbas dan Nyai Hj. Mudawwamah Nai’muddin. Semoga kita senantiasa mengenang teladan yang telah diwariskan beliau-beliau, dan kelak dikumpulkan bersama beliau dan masyayikh al-Khoziny. Istiqamah Sang Kiai sulit dilupakan, dan layak menjadi teladan terbaik bagi keita semua. Amin.
........
*Nama ini adalah pemberian Sang Kiai, ketika sowan pertama kali mondok diantar langsung oleh almarhum Aba tahun 1988 sebab nama formal adalah "Wasid"

Mãsyā'ALLÕH Mãsyā'ALLÕH
BalasHapusSemoga kita diberi kemudahan utk meneladani BELIAU semampu mungkin.
Ãmīn ALLÕHUmmah Ãmīn