SANTUN, DEDIKASI DAN TAREKAT (In Memoriam Gus Fattahul Anjab)
Tadi malam, ketika santai ngopi santai di rumah bersama sahabat-sahabat santri peduli sejarah, tersiar kabar melalui Group WA Pengurus IKA UINSA yang dishare Sahabat Ustadz Haris Nukman (pukul 23.37) dengan redaksi berdasar teks di hp penulis: “Mohon doanya untuk kesembuhan sahabat Fattahul anjab@AnjabSyariah. Alumni Yang saat ini sedang menjalani perawatan di ICU RS Siti Hajar Sidoarjo. Alfatihah. Penulispun tidak langsung percaya, walau lama tidak bersua ngopi bersama sahabat Anjab. Pukul 23.41, penulis kontak Ustadz Haris Nukman, sekedar memastikan kondisi Sahabat Anjab, ia mengatakan doakan saja Pak Doktor, beliau dalam kondisi kritis.
Pagi pulul 05.20, terkabar lagi digroup yang sama dengan redaksi: innalillahi wainnailahi rojiun telah meninggal dunia bapak Fatahul Anjab RT 05/RW 01. Mugi husnul khotimah. Sangat cepat info beredar, malam info sakit, pagi info meninggal. Karenanya, banyak sahabat dan seniornya bertanya, sakit apa? Sakit apa?, walau sebenarnya kematian tidak ada kaitannya dengan sakit atau tidak sakit, tapi tentang rahasia takdirnya. Termasuk, takdir sahabat Fattahul Anjab, yang meninggalnya melalui sakit dulu.
Sebagai refleksi, dapat direnungkan syair di bawah ini:
زَوَّدْ بِالتَّقْوَى فَاِنَّكَ لَاتَدْرِى # اِذَا حَانَ اللَّيْلُ هَلْ تَعِيْشُ اِلَى الْفَجْرِ
كَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ # وَكَمْ مِنْ عَلَيْلٍ حَاشَ حِيْنَ اِلَى الدَّهْرِ
“Berbekallah dengan takwa karena kamu tidak tahu
ketika malam datang apakah esok kamu masih hidup atau tidak“
“Berapa banyak orang yang sehat, mati tanpa penyakit # dan berapa banyak orang sakit yang malah berumur panjang"
Bagi penulis, Sahabat Anjab, biasa memanggil memang sama-sama Angkatan 1999 IAIN Sunan Ampel Surabaya, termasuk Sahabat Haris Nukman Fakultas Tarbiyah. Penulis di kampus sering ketemu, tapi tidak begitu akrab sebab berbeda fakultas. Jika Sahabat Anjab adalah alumni Fakultas Syari’ah, sementara penulis Fakultas Adab dan Humaniora. Keakraban yang sangat kuat, terjadi ketika sama-sama aktif di PW GP Ansor Jatim, termasuk satu periode penuh ketika sahabat Anjab menjadi Sekretaris MDS Rijalul Ansor Jawa Timur era kepemimpinan K.H. M. Nailur Rochman (Gus Amak).
Aktivisme di GP. Ansor ini, penulis akhirnya menyelami dunianya Sahabat Anjab, bahkan tidak jarang berkali-kali dalam satu mobil keliling, terlebih ikut memastikan agenda-agenda MDS Rijalul Ansor berjalan dengan baik sesuai dengan yang direncanakan sesuai dengan intruksi, khususnya yang berkaitan dengan pengkaderan, yang dikomandari sahabat Kiai Makmun Gresik. Sebagai kesaksian, Sahabat Anjab tidak banyak bicara dan enak menjadi lawan bicara, tapi dibuktikan dengan totalitas berdedikasi kepada organisasi. Tidak bosan-bosannya, ia mengetuk hati para sahabat lain untuk aktif, walau sebagian juga tidak hadir, tapi Ia tetap istiqamah mengingatkan. Cara ini, tanpa mengumbar amarah (sebagai bentuk kecewa), menjadi sebab ---salah satunya—orkesta organisasi berjalan sesuai dengan irama.
Lagi-lagi, Sahabat Anjab adalah sosok santun yang aktif di berbagai organisasi. Aktivisme yang banyak menjadi sebab ia mudah diterima oleh banyak kalangan, apalagi di lingkungan organisasi NU. Ini tidak lepas dari dedikasinya, yang menempatkan organisasi sebagai investasi pengabdian lebih kuat dari pada tempat mempraktikkan akrobat-akrobat politik jangka pendek. Dalam konteks ini, kita bisa belajar, sekaligus meneladani dedikasi dari sosok almarhum, Sahabat Anjab.
Terakhirnya, penulis sempat terjadi perbincangan dengan Sahabat Anjab kaitan keinginannya untuk masuk dunia tarekat. Bila lihat WA-nya, perbincangan dunia tarekat ini terjadi ketika bulan Juli tahun 2024, bahkan penulis sempat diajak untuk ikut baitan tarekat kepada mursyid-mursyid tarekat di Jatim, walau dalam banyak hal terus belum mendapat takdir dari Allah SWT.
Sempat penulis share flayer agenda “Baiat Kubro Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah al-Muktabaroh diampu langsung oleh sang Mursyid, K.H. A Tamim Romly Rejoso Jombang pada tanggal 16 Juli 2024/10 Muharram 1446, Ia hanya menjawab: Siap inshalloh yi…pagi..ya..mugi berkah Ridhonya. Ketika, tepat waktunya, kami berdua lagi-lagi belum ditakdir juga ikut baiat tarekat, walau penulis sendiri sebenarnya belum siap lahir dan batin untuk baiat tarekat tertentu.
Keinginan Sahabat Anjab bertarekat ini sebenarnya keinginan mulia agar kiranya hidup ini semakin terarah, agar kiranya –sekali lagi__ dunia yang dijalani memiliki keseimbangan, mengingat dalam tradisi tarekat tidak lepas dari adanya tradisi pembacaan dzikir dengan cara dan waktu tertentu sesuai dengan arahan sang Mursyid. Puncak dari tradisi tarekat, bukan sekedar masuk keanggotaan, tapi menjadikan sang Mursyid sebagai pembimbing agar kiranya murid semakin mudah menghampiri menuju jalanNya.
Akhirnya, Sahabat Anjab mangkat kehadirat Allah SWT, niat tulus untuk bertarekat, semoga menjadi amal kebaikan sebab niat baik sudah mendapat pahala, sebelum mengerjakannya. Kesantunannya dengan siapapun dan dedikasinya pada organisasi, sekali lagi penulis menyaksikan dari sosok sahabat anjab. Semoga juga menjadi jalan kemudahan menapaki jalan berikutnya. Selamat Jalan Sahabat, Allahumma ighfir laka wahsyur laka ma’a mu’assis NU. alfatihah….

Leave a Comment