DARI SEMINAR AL-QUR’AN HINGGA JEJAK TOKOH
“Carve your name on hearts. Not tombstones. A legacy is etched
into the minds of others and the stories they share about you”
(Shannon Alder)
Dalam kesempatan mengikuti agenda di Jakarta bertajuk
Internasitional Seminar dengan tema: “Ancient Qur’anic Manuscripts in The
History of The Qur;an”, 24 Oktober 2026, penulis merasakan betul betapa
pentingnya belajar sejarah al-Qur’an dalam perspektif naskah-naskah lama
(manuskrip), yang dalam hal ini berkaitan dengan Manuskrip Mashhad Razawi.
Menarik sebab al-Qur’an yang ditulis pada era awal mendekati sejarah kenabian memiliki
kekhasan tersendiri dari pada yang sudah ada sekarang ini, misalnya menggunakan
rasm Hijazi, tidak ada titik dan harkat dengan standar sebagaimana yang lazim
hari ini, khusus penulisan –atau cetak- al-Qur’an dengan standar ustmani.
Semakin al-Qur’an dikaji, memang selalu memancarkan
pengetahuan baru yang tidak pernah berhenti. Menelaah manuskrip al-Qur’an
dan karakteristiknya adalah __meminjam
istilah Sahiron Syamsuddin__ bagian dari penelitian luaran teks, yakni semacam
penelitian luaran yang belum masuk pada substansi teks. Karenanya, dalam
konteks kajian al-Qur’an masih banyak hal lain yang perlu dikaji, mulai makna
teks al-Qur’an hingga soal living al-Qur’an, semacam bagaimana al-Qur’an
terpraktikkan secara beragam oleh masyarakat kekinian.
Di tengah padatnya agenda-agenda seminar ini, untuk
menghilangkan kepenatan penulispun menyempatkan diri mengunjungi pondok
pesantren al-Hikam di Depok dalam rangka menyapa putra tetangga, sekaligus
putri dari KH. Muhlashon Jalaluddin yang sama-sama nyantri dan kuliah di kampus
UI Depok. Bagi penulis, mengunjungi para pencari ilmu adalah bagian dari
silaturrahim, sekaligus memberikan support kepadanya agar tetap teguh dan
istiqamah dalam mencari ilmu sebab ini bagian dari jihad menghilangkan
kebodohan. Teringat perkataan Nabi SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh
Imam Turmudzi yang artinya sebagai berikut:
”Barang siapa yang
keluar untuk mencari ilmu, maka ia seperti jihad di jalan Allah hingga ia
pulang.”
Di samping itu, penulis juga menyempatkan diri untuk
ziarah ke makam K.H. A. Hasyim Muzadi, pendiri Pondok Pesantren Al-Hikam Depok. Walau daerah Depok diselimuti mendung,
penulispun tetap mendatangi makam Kiai Hasyim yang berada di area pesantren
al-Hikam; setidaknya sowan dan tabarrukan sebagaimana lazim dilakukan warga
Nahdliyin. Bagi penulis, tidak ada keuntungan mendatangi makam orang sholih,
kecuali ada harapan bersamaan dengan datangnya Rahmat dari Allah SWT.
Mengapa harus Kiai Hasyim Muzadi selanjutnya ditulis—. Bukannya di Jakarta juga banyak tokoh lain? Bagi
penulis, alasan yang penting untuk bersama-sama kita renungi adalah jejak
ketokohannya, baik ketika aktif NU maupun dalam ruang politik kebangsaan. Kiai
Hasyim Muzadi bukan sekedar kiai yang hanya mengajar di pesantren, tapi
sekaligus Kiai panggung yang menyapa banyak orang yang ceramahnya mudah
dipahami, serta sebagai kiai aktivis yang kegiatannya sepanjang hidupnya larut
dalam dunia aktivisme di NU. Aktivisme inilah yang kemudian, Kiai Hasyim Muzadi
selalu “melek” terhadap kondisi politik kebangsaan sehingga banyak terlibat
dalam menjaga ruang kebangsaan ini agar tetap kokoh dalam ideologi Pancasila
dan UUD 1945.
Hikmah
Tokoh
Qoute dari Shannon Alder yang dikutip pada awal
tulisan ini berarti: “Ukirlah namamu di dalam hati, bukan pada batu nisan.
Warisan akan terpatri dalam benak orang lain serta kisah-kisah yang mereka
bagikan tentangmu”. Pesan ini sangat dalam agar kita semua yang hidup tidak
berpikir kepuasan diri sendiri, tapi perlu memikirkan orang lain, yang dalam
bahasa agama kita mengenal pesan propetik Khairu annas anfauhum li annnas.
Dalam konteks Kiai Hasyim Muzadi, kita layak belajar kepadanya
tentang pengabdian dalam berorganisasi, dan perlunya ikut memikirkan jalan
keluar kaitan hajat orang banyak, termasuk berkontribusi bagi bangsa dan
negara. Ada hal penting dari kalimat yang menempel di area tembok makam Kiai
Hasyim Muzadi yang konon dinisbatkan sebagai warisan hikmahya. Pertama, “orang
yang memperjuangkan umat tidak akan kekurangan, dan orang yang memperjuangkan
diri sendiri belum tentu berlebihan.”
Kalimat ini mendidik kita semua agar tidak hanya
memikirkan kepentingan diri sendiri, termasuk orang terdekat. Kalimat penuh
hikmah ini juga salah satu bentuk kritik Kiai Hasyim Muzadi kepada para
pemangku kebijakan di level apapun yang selalu berpikir berusaha memperkaya
dirinya sendiri, keluarga, bahkan orang-orang terdekat. Padahal, anggaran yang digunakan
adalah hasil dari ketaatan rakyat dalam membayar bajak, dan sejenisnya.
Kasus demi kasus terus terjadi hari-hari ini,
bagaimana seorang penguasa tertentu dengan seenaknya mengangkat keluarganya
sendiri, misalnya anak atau istri dan orang-orang terdekat, agar mendapat
fasilitas negara, tanpa proses rekrutmen yang jelas. Mumpung berkuasa, maka
orang terdekat diangkat semaunya, walau tanpa memperhitungkan profesionalisme,
alih-alih yang berkaitan dengan integritas.
Kedua, orang yang tidak berbuat apapun untuk kemaslahatan
umat, justru dia akan dililit oleh permasalahannya sendiri. Kalimat ini menyadarkan bahwa kita mahluk
sosial sehingga interaksi sosial dengan orang lain adalah keniscayaan dalam
rangka memenuhi kebutuhan kita, termasuk kebutuhan sehari-hari.
Sebut saja misalnya, makanan di kantin yang kita makan
tidak “ujug-ujug” datang. Ia melibatkan banyak orang, mulai petani, tukang
masak, kasir dan kita sebagai pembeli. Begitu juga hal-hal lain yang mungkin
dianggap remeh, tapi berhubungan dengan kebutuhan kita sehari-hari. Karenanya,
jangan pernah merasa hebat sendiri, tanpa merasa dirinya tidak membutuhkan
orang lain.
Untuk itu, ikut terlibat dalam memperjuangkan
kepentingan orang lain dan menyelesaikan problem yang mereka hadapi sejatinya
memberikan ruang energi positif yang kembali kepada diri sendiri. Jangan pernah
merasa berat dan merasa rugi untuk membantu orang lain. Bukankah banyak contoh,
orang yang semakin memberikan kemudahan kepada yang lain akan kembali energi
positifnya kepada dirinya sendiri, bahkan kepada anak dan keluarganya. Maka,
memberikan kemaslahatan kepada orang lain adalah jalan kita menuai kemaslahatan
juga.
Kiai Hasyim Muzadi adalah aktivis NU tulen, dan pernah
menjabat sebagai Ketum PBNU Periode 1999 hingga 2010. Ia kader NU yang lahir
dari bawah dengan militansi yang sudah teruji dalam berorganisasi sehingga
wajar bila dipercaya sebagai Ketum PBNU dua periode, bahkan pernah menjadi Anggota
Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada tanggal 19 Januari 2016-16 Maret
2017 (bersamaan dengan wafatnya).
Last but not least. Kiai Hasyim Muzadi sudah 9 tahun
meninggalkan kita semua. Tapi, jejak kebaikannya dalam mencintai bangsa dan
negara, serta keteguhannya dalam aktivisme di NU layak menjadi teladan sebab
hanya orang yang tangguh dan istiqamah berproses yang mampu seperti Kiai Hasyim
Muzadi, apalagi ketika berada di antara tarikan kepentingan menggerakkan
organisasi dan rutinitas domistik di rumah. Semoga bisa belajar Kiai aktivis
ini. Amin...
.........
Jakarta, 25 Oktober 2026
Keterangan gambar adalah gabungan photo makam KH. Hasyim Muzadi di Depok dan Tempat Seminar Internasional di Hotel Yuan Garden Jakarta Pusat. Digabungkan melalui versi AI

Leave a Comment