NU ADALAH PESANTREN: Sebuah Refleksi, Membaca Semonan "Tuan Carlos" Hasyim Wahid
Pernyataan Gus Im atau Hasyim Wahid __sebagaimana termaktub di flyer__ tentang kaderisasi pesantren patut ditempatkan sebagai bahan refleksi bersama bagi pesantren dan Nahdlatul Ulama, dari tingkat ranting hingga pusat.
“Semua pesantren di wilayah NU tidak ada yang membuat pola pengkaderan dan pendidikan bagi santri-santri yang bisa tahan banting, tidak takut miskin, tidak galau dengan masa depannya... Apalagi para pimpinan pondok yang terlalu memanjakan putra-putrinya, sehingga hampir semua gus dan ning di NU jadinya cemen-cemen, tidak bisa ngurus orang kalau dia dewasa, karena dia terbiasa diurus sejak kecil di lingkungan pesantrennya.”
Pernyataan tersebut memang keras, tetapi menyentuh persoalan penting tentang arah pendidikan pesantren dan kaderisasi NU: bagaimana membentuk generasi yang mandiri, tangguh, tidak mudah menyerah, dan siap mengabdi kepada masyarakat.
Lupakan sejenak hiruk pikuk dan pro kontra hasil Muktamar NU ke-35 di Ponpes Tambakberas Jombang. Mari kembali menjadikan NU sebagai Pesantren yang luas, mendidik, mengkader keseluruhan santri tentang semua ilmu, adab dan peradaban global. NU bukan milik satu dua orang, NU adalah milik semua kader, NU adalah organisasi sakral yang dijaga para wali Allah yang karomahnya selalu mengalir sampai kelapisan masyarakat paling bawah.
Pesantren sejak awal tidak hanya mengajarkan kitab, tetapi juga membentuk watak. Santri belajar hidup sederhana, disiplin, berkhidmah, menghormati orang lain, dan menghadapi keterbatasan. Pendidikan semacam inilah yang membentuk pribadi yang tidak mudah goyah ketika menghadapi kesulitan.
Tantangan zaman kini berbeda. Kemudahan fasilitas dan kekhawatiran orang tua terkadang membuat anak terlalu dilindungi. Atas nama kasih sayang, mereka dapat kehilangan kesempatan untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab.
Anak yang selalu dibantu belum tentu mampu membantu. Anak yang selalu dilayani belum tentu siap melayani.
Karena itu, pendidikan ketahanan mental, kemandirian, dan tanggung jawab perlu kembali mendapat tempat dalam tradisi pesantren, terutama tentang adab dan moral.
Gus dan Ning: Gelar yang Mengandung Tanggung Jawab
Menjadi gus atau ning bukanlah persoalan. Mereka juga berhak mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang baik. Namun, sebagai putra-putri keluarga pesantren, terdapat tanggung jawab moral untuk membuktikan bahwa kepercayaan masyarakat tidak berhenti pada garis keturunan.
Kepemimpinan tidak cukup diwarisi melalui nama keluarga. Tetap harus dibangun melalui ilmu, akhlak, pengalaman, kemampuan bekerja, dan kesediaan melayani.
Karena itu, calon penerus pesantren semestinya tidak hanya disiapkan untuk memimpin, tetapi terlebih dahulu dilatih untuk berkhidmah. Mereka perlu mengalami bagaimana mengurus kegiatan, menghadapi masyarakat, menerima kritik, menyelesaikan persoalan, dan bekerja tanpa selalu bergantung pada fasilitas keluarga.
Mendidik anak agar mandiri bukan berarti menghilangkan kasih sayang. Justru kasih sayang yang sehat adalah keberanian orang tua memberi ruang kepada anak untuk bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Kaderisasi NU Harus Menjadi Pendidikan Kehidupan
Persoalan ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi NU, dari ranting hingga pusat. Kaderisasi tidak cukup hanya berupa seminar, pelatihan, atau forum organisasi. Kader harus diberi pengalaman nyata dalam mengurus masyarakat. Ranting dan MWC merupakan ruang penting untuk melatih generasi muda menghadapi persoalan kehidupan secara langsung.
Mereka perlu belajar mengurus kegiatan warga, membantu masyarakat yang mengalami kesulitan, membangun pendidikan, menyelesaikan persoalan, dan bekerja dalam keterbatasan.
Kepemimpinan tumbuh melalui pengalaman, tanggung jawab, kegagalan, dan pengabdian.
Karena itu, NU perlu memandang kaderisasi sebagai investasi jangka panjang. Yang dibangun bukan sekadar calon pengurus, melainkan manusia yang matang secara ilmu, mental, sosial, dan spiritual.
Jangan Takut Hidup Sederhana
Kegelisahan Gus Im bukan berarti generasi muda pesantren harus dimiskinkan. Yang perlu ditanamkan adalah keberanian untuk hidup sederhana dan tidak bergantung sepenuhnya pada fasilitas.
Jangan takut miskin, tetapi takutlah kehilangan kemandirian. Jangan takut hidup sulit, tetapi takutlah tidak mampu menghadapi kesulitan.
Orang yang terbiasa hidup cukup akan lebih mudah mengabdi tanpa terlalu banyak tuntutan. Ia tidak mudah kehilangan keberanian hanya karena fasilitas berkurang atau jabatan tidak diperoleh.
Inilah nilai yang perlu terus hidup di pesantren dan dalam kaderisasi NU: kesederhanaan, kemandirian, keberanian, tawadhu, ketahanan mental, dan kesediaan berkhidmah.
Kritik Tuan Carlos Gus Im sebaiknya tidak berhenti sebagai perdebatan mengenai keras atau lunaknya sebuah pernyataan. Yang lebih penting adalah menjadikannya bahan evaluasi.
Pesantren perlu memperkuat pendidikan yang melahirkan santri mandiri dan siap menghadapi kehidupan. Para pimpinan pesantren perlu memastikan putra-putrinya tidak hanya mendapatkan keistimewaan, tetapi juga pendidikan tanggung jawab.
NU pun perlu memperkuat kaderisasi dari bawah, sehingga generasi muda tidak sekadar mengenal organisasi, tetapi benar-benar mengalami proses menjadi pelayan masyarakat. Setelahnya para kader harus paham bahwa menjadi NU bukan untuk memperebutkan kekuasaan dalam organisasi, melainkan paham tentang tanggung jawab NU terhadap persoalan agama, bangsa, negara dan persoalan geopolitik internasional. Kader NU tidak boleh gagap terhadap kritik, tidak boleh leha-leha karena sudah dapat bisyaroh politik harian saja. Jangan juga manja karena punya nasab keturunan.
Sebab pesantren tidak cukup melahirkan orang yang alim dan cerdas. Pesantren harus melahirkan manusia yang matang, tangguh, mandiri, dan siap mengabdi. NU juga tidak cukup menyiapkan orang untuk mengisi jabatan. NU harus menyiapkan generasi yang mampu memikul amanah.
Kritik yang keras tidak harus dibalas dengan kemarahan. Ia bisa dijadikan cermin untuk memperbaiki pendidikan, kaderisasi, dan cara kita menyiapkan generasi penerus.
Jika NU ingin memiliki pemimpin masa depan yang kuat, proses menempa mereka harus dimulai sejak sekarang tentang adab, integritas dan mental dari pesantren, dari ranting, dan dari kehidupan nyata.

Leave a Comment