HIDUP-PUN TIDAK SELAMANYA, WASPADALAH ...!


Wasid Mansyur
Pemerhati Sosial dan Agama, Dosen FAH UIN Sunan Ampel


“Hidup-pun tidak selamanya” Waspadalah !, sengaja penulis menjadikan kalimat ini sebagai judul tulisan sebagai kritik atas prilaku siapapun, termasuk penulis. Mengapa? Sebab tidak sedikit orang berpikir dan merasa akan hidup selamanya, padahal hidup dibatasi oleh ruang dan waktu dan ruang dan waktu itu pada saatnya akan sirna. Karenanya, iapun bebas berangan-angan untuk hidup selamanya sehingga terus berpikir bebas dan berprilaku bebas sebagai pilihan, alih-alih berpikir apakah prilaku dan ucapannya benar-benar berdampak secara kemanusiaan atau secara dimensi ukhrawi, terkhusus bagi Muslim yang meyakini ada proses hidup ukhrawi sebagai sarana pembalasan atas amal.

Walau begitu, sebagian sudah meyakini akan dimensi balasan bagi yang mengerjakan perbuatan yang tidak normal atau bertentangan dengan akal sehat dan nilai-nilai agama, tapi angan-angan panjangnya tentang hidup telah menumpulkan akal budi atau nuraninya untuk menentukan pilihan-pilihan hidup yang lebih selamat, untuk tidak mengatakan pilihan hidup yang jauh dari mudarat. Akibatnya, ia lupa kematian dan tetaplah menikmati hedonisasi keduniaan yang cenderung memantik pelakunya semakin lupa akan hakikat dirinya sebagai mahluk yang beribadah (mawa khalaqtu al-Jinna wa al-Insa illa liya’budun, aldzariyat: 56). Pastinya, dalam konteks ini, dengan makna ibadah yang lebih luas, yakni merawat hubungan yang baik dengan Tuhannya, sekaligus semua makluknya, termasuk bekerja siang hari untuk kebutuhan keluarga adalah bagian dari ibadah.  

Satu contoh yang sederhana, dan selalu menghiasi pemberitaan di berbagai media adalah perilaku korupsi dengan berbagai cara yang dilakukan. Semakin ke sini nampaknya prilaku itu tidak ada tanda-tanda yang memastikan berkurang, apalagi berhenti. Akibat korupsi, negara tidak bisa bangkit. Kalaupun dikatakan bangkit, tetap saja “kebangkitan semu” mengingat rakyatnya tidak bisa menikmati betul kekayaan alam, kecuali para elite-elite politik yang bersekongkol dengan pengusaha yang selalu mengambil keuntungan lebih diluar kebutuhan: mulai kekayaan hutan, tambang, kekayaan laut dan lain-lain.  

Ketika rakyat tidak sedikit harus berjuang mengumpulkan uang dengan cara-cara yang halal: mulai 10rb, 50rb hingga 100rb perhari (dengan berjual pentol, bakso, makanan ringan dan lain-lain, di sana para politisi korup dengan mudahkan terlibat “ngempalang” dana milyaran atau bahkan sampai triyunan. Menariknya, pelakunya bukan orang-orang biasa, tapi orang-orang yang terdidik pandai secara akademik sambil mengadu nasib menjadi politisi. Mahalnya biaya menjadi politisi sukses, seringkali menjadi pemicu para politisi mudah terlibat atau terjerat prilaku korup: mungkin hanya ingin mengembalikan modalnya atau hingga sebagai modal untuk bertarung kembali pada periode berikutnya.

Bukan hanya politisi, di berbagai tempatpun kita masih sering menyaksikan fenomena yang berbeda yang tidak normal secara akal sehat, bahkan bisa bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya, kekuasaan yang diperebutkan seringkali juga memantikkan munculnya prilaku sogok menyogok atau rishwah. Semakin besar daya dorong kekuasaan itu diperebutkan, semakin besar punya biaya yang digelontorkan. Soal pendidikanpun juga demikian, kita juga masih juga menemukan proses kapitalitasasi orang masuk dalam jurusan tertentu dalam salah satu kampus besar. Belum lagi soal bisnis yang berkaitan dengan perijinan, tidak sedikit pula selalu memunculkan fenomena hubungan “kongkalikong” pebisnis dengan politisi kaitannya dengan undang-undang, termasuk misalnya pertarungan pebisnis rokok besar dan rokok kecil yang sempat ramai baru-baru ini.

---------------

Tetaplah waspada, walau kita hidup dalam kondisi dimana prilaku abnormal yang terjadi di mana-mana. Kewaspadaan ini penting bagi kita sebab akan menjaga kualitas hidup akan lebih baik sehingga dapat berhati-hati dalam berucap dan berbuat. Tidak jarang, kita tidak bisa melakukan prilaku abnormal, misalnya korupsi, bisa jadi karena memang kita belum ada kesempatan. Tapi, kewaspadaan yang tumbuh sejak dini dan selalu diperkuat kaitan tentang makna hidup dan keharusan kita untuk memberikan yang terbaik dibutuhkan sikap yang lebih hati-hati.

Teringat salah satu bait dalam sastra Jawa “Serat Kalatidha” yang ditulis oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito, sang pujangga besar kasunanan Surakarta abab ke-19. Ia pernah mengatakan:

“Saiki jamane jaman edan
Yen ora edan ora keduman
Sak bejo bejone wong kang edan
Isih bejo wong kang ileng lan waspada"

(sekarang zamannya zaman gila. Kalau tidak ikut gila tidak dapat bagian. Seberuntung-beruntungnya orang yang gila, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada).

 

Ronggowarsito sebenarnya mengkritik kondisi yang dialaminya kaitannya pengaruh Barat yang sangat kuat dalam struktur sosial, politik dan budaya masyarakat di Surakarta. Akibatnya kepentingan ekonomi tidak berpihak pada rakyat, tata krama mulai digantikan dengan prilaku serba Barat, termasuk ancaman hilangnya beragam tradisi-tradisi lokal dengan kehadiran nilai-nilai Barat yang cenderung birokratif. Tapi kritik ini, menurut penulis melampaui waktunya sebab makna kata “edan”, tidak bisa dibatasi oleh waktu, melainkan oleh prilaku “edan” yang bisa terjadi kapanpun, yakni semacam kegilaan yang menyebabkan oleh lupa terhadap sejati dirinya.

Sikap waspada dalam banyak hal ini sebagaimana menjadi ajakan Ronggowarsito adalah semacam paradigma berpikir dalam melihat persoalan hidup agar lebih hati-hati. Mereka yang tidak memiliki kewaspadaan yang kuat, cenderung berpikir ia hidup panjang dan selama-lamanya sebab kelak ia berkomitmen melakukan pertaubatan. Padahal, tidak semua orang tahu kehidupan berhenti kapan? Sehingga waspada menjadi penting untuk mengukur sejauh mana perkataan dan perbuatan itu benar-benar memberikan dampak baik bagi diri sendiri atau bahkan bagi orang lain.

Mengakhiri tulisan ini, penulis mengutip potongan khutbah dari Umar ibn Abdul ‘Aziz sebagai modal agar kita tetap waspada dalam hidup. Ia pernah mengatakan:

لا يطولن عليكم الأمد فتقسوَ قلوبكم وتنقادوا لعدوّكم، فإنّه والله ما بَسط أملا من لا يدري لعلّه لا يُصبح بعد مسائه ولا يُمسي بعد صباحه، وربّما كانت بين ذلك خطفات المَنايا 


“Janganlah kalian membiarkan waktu berlalu begitu panjang, hingga hati kalian menjadi keras dan kalian tunduk kepada musuh kalian; karena, demi Allah, tidaklah seseorang memelihara angan-angan jangka panjang —tanpa mengetahui apakah ia akan menjumpai pagi setelah petang atau petang setelah pagi—. Saatnya tidak jarang maut bisa datang menyambar secara tiba-tiba.”

Jadi, waspadalah ! sebab hidup tidak selamanya. Korupsilah sebanyak yang kau inginkan, tapi yakinlah harta yang dihasilkan dari tindakan korupsi akan menjadi rebutan ahli waris ketika sudah mati, bahkan menjadi “pitakon’ alam selanjutnya sebab pertaubatan korupsi tidak diukur berapa kali naik haji, tapi sejauh mana kekayaan itu dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat. Semoga kita semua terus waspada, di tengah hidup yang semakin meng-gila.

 

  

 

 

 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.