SELF SABOTAGE (Sebuah Cerpen Menjelang Muktamar NU ke-35)
Aneh memang, tetapi begitulah perasaan manusia ketika sesuatu yang paling ditakutinya akhirnya terbukti. Ada kelegaan yang tidak seharusnya ada. Bukan karena kehilangan terasa menyenangkan, melainkan karena ketidakpastian ternyata jauh lebih menyiksa daripada kenyataan.
Selama berbulan-bulan aku hidup di antara dua kemungkinan: aku terlalu curiga, atau memang ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Aku memilih percaya, barangkali karena cinta selalu mengajarkan kita untuk memaafkan sesuatu bahkan sebelum sesuatu itu terjadi. Aku menganggap perubahan cara bicara sebagai kelelahan. Jeda dalam membalas pesan sebagai kesibukan. Tawa yang terdengar asing di ujung telepon sebagai kebetulan.
Kami menjalani hubungan jarak jauh. Dan jarak, rupanya, bukan hanya soal kilometer. Jarak bisa tumbuh di antara dua orang yang setiap malam masih mengucapkan selamat tidur.
Aku pernah berpikir, selama komunikasi kami baik, selama masih ada kabar pagi dan percakapan sebelum tidur, semuanya akan baik-baik saja.
Ternyata aku keliru.
Aku mengetahuinya perlahan-lahan, seperti seseorang yang menemukan rumahnya terbakar dari bau asap yang samar.
Namun aku tidak langsung pergi.
Aku justru mencari jalan keluar yang paling sunyi.
Kalau aku pergi begitu saja, aku tahu aku akan disebut pengecut. Kalau aku bertanya terlalu banyak, aku akan disebut posesif. Kalau aku menuduh, aku akan dianggap tidak percaya.
Maka aku memilih cara yang paling buruk sekaligus paling menyakitkan diriku sendiri. Aku membiarkan diriku terlihat bersalah. Aku harus mengorbankan nama baikku sendiri.
Aku harus bekerja sama dengan seseorang yang bahkan, menurut ukuran dunia, lebih cantik darinya.
Bukan karena aku mencintai perempuan itu, bukan pula karena aku ingin membalas, aku hanya membutuhkan sebuah pintu keluar.
Dan kadang-kadang, seseorang yang sudah terlalu lama terperangkap akan membuka pintu apa pun yang tersedia, meski di baliknya ada api.
Rasanya seperti menjadi agen rahasia.
Aku menyelinap ke tempat paling sunyi yang bahkan tidak ia sadari sedang diawasi.
Aku tidak ingin menemukan apa-apa.
Sungguh, setiap bukti yang kutemukan justru membuat sebagian kecil dari diriku berharap bahwa aku salah.
Sampai suatu hari, semuanya menjadi terang. Aku membaca percakapan-percakapan itu. Tidak romantis dengan kata-kata besar.
Justru karena sederhana, ia terasa lebih kejam. Ada kemesraan di sana, ada perhatian yang dulu kukira hanya milikku.
Aku tidak marah, tidak menangis, hanya diam, kemudian aku tertawa kecil. Sadar selama ini aku ternyata sedang mempertahankan sesuatu yang sudah lama meninggalkanku.
“Jadi benar...” bisikku pada sunyi malam.
Antara percaya dan tidak. Malam itu aku tidak tidur. Aku duduk di dekat jendela, memandangi jalan yang basah setelah hujan. Lampu-lampu kendaraan bergerak seperti kenangan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Aku memikirkan semua hal yang pernah kulakukan demi hubungan itu.
Menunggu.
Mengerti.
Mengalah.
Membela.
Meyakinkan orang lain bahwa ia baik-baik saja ketika sebenarnya aku sendiri mulai ragu.
Aku bahkan pernah memusuhi kecurigaanku sendiri.
Betapa bodohnya seseorang ketika mencintai.
Ia sanggup bertengkar dengan nalurinya sendiri hanya demi mempertahankan seseorang.
Dua purnama kemudian, setelah aku tak lagi ingin tahu apapun tentang dirinya. Melalui gawai temannya yang seolah sengaja dipasang agar aku panas melihatnya bermesraan dengan orang lain. Yang aku yakin bahkan ia bangga sudah mendapatkan orang lain setelah merasa aku sudah mengkhianatinya.
Begitu saja.
Seolah aku yang tertangkap.
Seolah akulah pelakunya.
Seolah selama ini aku yang bermain di belakangnya.
Aku hanya bisa tersenyum pahit ketika melihatnya.
Lucu.
Orang yang menyembunyikan luka sering kali menjadi orang pertama yang berteriak bahwa dirinya terluka.
Dan mungkin begitulah caraku keluar.
Aku harus kehilangan nama baik agar bisa menyelamatkan diriku sendiri.
Biarlah orang-orang mengira aku jahat.
Biarlah mereka percaya bahwa aku pergi karena perempuan lain.
Biarlah cerita tentangku tumbuh liar di mulut orang-orang.
Aku sudah terlalu lelah menjelaskan.
Sebab ada fase dalam hidup ketika kebenaran tidak lagi membutuhkan pembelaan.
Aku hanya ingin pergi.
Bukan dari kota.
Bukan dari kenangan.
Tetapi dari diriku yang dahulu selalu merasa harus dipilih.
Malam terakhir sebelum benar-benar menghilang dari kehidupannya, aku menulis satu pesan.
Tidak panjang.
Tidak ada makian.
Tidak ada pertanyaan.
Hanya:
"Aku akhirnya mengerti. Dan maafkanlah aku."
Pesan itu terkirim, mungkin itulah tanda bahwa cinta itu benar-benar sudah selesai.
Aku memang kehilangan seseorang, tetapi diam-diam, aku menemukan kembali diriku sendiri.
Ternyata keluar dari sebuah hubungan tidak selalu berarti keluar sebagai pemenang. Kadang-kadang kita keluar dengan nama yang buruk, dengan cerita yang dipelintir, dengan hati yang hancur dan tangan kosong.
Ketika akhirnya kita berani meninggalkan tempat yang tidak lagi menyediakan ruang bagi kesetiaan. Dan meskipun cinta itu ternyata tidak setia, aku ingin perpisahanku tetap memiliki sedikit martabat.
Sebab aku tahu sekarang:
yang paling menyakitkan bukan mengetahui bahwa seseorang telah berpaling. Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa selama ini kita begitu sibuk mencintainya, sampai lupa mencintai diri sendiri.

Leave a Comment