Prof. Mas'an Hamid, Sang Guru Arud yang Telaten, Teduh dan Teguh

 



Wasid  Mansyur
(Sekedar Kesaksian Murid)

 

Di tengah ikut menghadiri agenda Seminar Nasional dan Bedah Buku yang diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiwa Fakultas Adab dan Humaniora di Kampus A Yani UIN Sunan Ampel Surabaya, penulis dikagetkan dengan kabar meninggalnya Prof. Dr. Mas'an Hamid, M.Ag, salah satu Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya melalui pesan group whatsApp INFO-INTERN.FAHUM. Kaget, karena memang tidak adanya kabar bahwa Prof Mas'an mengalami sakit dalam beberapa bulan terakhir. Walau ternyata, setelah acara selesai penulis bertakziyah, beliau sebelumnya memang sakit.

Tapi begitulah kematian, ia datang selalu tanpa diundang. Bahkan kalau sudah datang ia sulit dibendung, dan siapapun tidak bisa menolak. Teringat firman Allah Swt dalam surat al-A’raf 34 :

فَإِذَا جَاءَ أجلهم لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

"Maka apabila telah datang waktu (kematian/batas akhir) mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya (menundanya) barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya (mempercepatnya)."

Atau teringat syair __yang konon dinisbatkan sebagai perkataan Imam Syafi'i __ sebagai pengingat bersama:

وكم من صحيح مات من غير علة # وكم من سقيم عاش حينا من الدهر

"Betapa banyak, orang sehat yang meninggal tanpa sebab (sakit), dan betapa banyaknya orang sakit yang tetap hidup lama umurnya."

Kabar meninggalnya Prof Mas'an memantik penulis untuk menarik ke belakang kaitan sejarah perjalanannya mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora, yang secara pasti penulis adalah salah satu didikannya di jurusan bahasa dan sastra Fakultas Adab. Tercatat, ketika itu ia mengajar materi cukup langka dalam dunia kesusastraan Arab, yakni Ilmu Arudh dan Qawafi. Keahliannya dalam kajian ini mengantarkan ia tercatat sebagai Guru Besar Ilmu 'Arudh di UINSA, sekaligus dalam beberapa bulan tercatat purna tugas sebagai dosen.

Satu hal penting dari kebaikan Prof Mas'an yang layak diteladani bagi semua _khususnya bagi para dosen_ adalah keberadaannya sebagai pengajar yang penuh telaten dan tangguh. Kenapa penulis mengatakan sangat telaten, sebab ia menjelaskan kajian Arudh dengan serius, sambil menulis di papan untuk memastikan bahwa Arudh itu bukan sekedar pengetahuan semata, tapi perlu dipraktikkan. Perlu diketahui, ilmu Arudh adalah cabang ilmu dalam sastra Arab yang mempelajari kaidah-kaidah untuk mengukur, mengenali, serta menentukan keabsahan (sah atau rusaknya) wazan (timbangan/pola irama) suatu syair atau puisi bahasa Arab.

Mengapa harus menulis di papan?, Prof Mas’an ini memastikan bahwa teori-teori yang ada dalam Arudh harus dipraktikkan dengan menelaah syair atau puisi bahsa Arab, yang dikenal dengan istilah Taqti’, yakni proses memotong-motong bait syair ke dalam bagian atau taf'ilah (pola baku) sesuai dengan harakat dan sukun-nya untuk menguji kebenaran wazan tersebut. Tidak jarang, setiap kali mengajar, kondisi papan penuh dengan tulisan agar mahasiswa semakin paham bagaimana meng-aplikasikan teori-teori yang ada dalam arudh. Dan sebelum pulang, papan itu lantas dibersihkan.

Ketelatenan mengajar ini ternyata memberikan ruang keteduhan dalam berinteraksi. Prof Mas’an tidak banyak bicara dengan siapapun, ketika berinteraksi, kecuali ketika ditanya. Sebagai santri K.H. Dahlan Basyuni Peneleh (sang perintis pesantren Tahfidh al-Qur’an di Peneleh Surabaya), ia –menurut pengamatan penulis__ tidak lepas dari al-Qur’an dalam kesehariannya; sebuah Guru Besar yang terus menjaga tradisi keilmuan yang sangat kuat, bahkan menurut sebagian sumber __dari Mas Azro Nginden melalui statusnya__ ada kesaksian bahwa dua minggu sebelum meninggal Prof. Mas’an masih khidmat ilmu dengan mengajar di Pascasarjana Ma’had Aly Amtsilati Jepara dengan naik bis dari Bungurasih ke Jepara.

Usia boleh sepuh, tapi menyebar ilmu tidak mengenal usia. Inilah tarekat penting dari sang Guru Besar Arudh UINSA yang layak diteruskan oleh kita yang muda-muda agar tidak mudah menyerah, alih-alih malas dalam menyebarkan ilmu. Semoga kebaikannya mengantarkan kemudahan untuk melangkah menuju tahapan-tahapan berikutnya. Selamat jalan, sang Guru Arudh. Al-fatihah

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.