MOTIF TEOLOGIS, “ROMLI” HADIR MUKTAMAR NU

Wasid Mansyur
Peserta Romli Dari Surabaya 


Muktamar NU memang selalu menarik, yang membedakan dengan muktamar organisasi lainnya. Pasalnya, bukan hanya soal kepemimpinan NU yang selalu menjadi perbincangan di tengah ruang publik nahdliyin, para pengamat hingga para politisi. Tapi juga terdapat fenomena kehadiran para “Romli” yang selalu meramaikan hajatan para ulama yang dilaksanakan setiap satu periode kepemimpinan tertinggi NU dari satu muktamar ke muktamar lainnya. 

Istilah “Romli” dalam setiap momentum muktamar NU tidak tahu, kapan ia muncul?. Istilah yang dimaknai dengan “Rombongan Liar” atau rombongan lillahi ta’ala. Maksudnya, “Romli” adalah para nahdliyin yang ikut hadir dalam arena muktamar NU, tapi tidak memiliki suara. Istilah ini cukup beralasan bila kemudian muncul istilah yang berbeda (walau substansinya sama), dan berkembang pada momentum Muktamar NU ke 35 di pondok pesantren Tambakberas Jombang, adalah muktamirin-out dan muktamirin-in.

Nama yang disebutkan terakhir (baca: muktamirin-in) adalah para peserta muktamar yang benar-benar memiliki undangan Muktamar NU dan mewakiliki pengurus di tingkatan PCNU, PWNU atau PBNU. Sementara muktamirin-out adalah mereka yang tidak memiliki undangan, tapi tekad untuk hadir di setiap momentum Muktamar sangat kuat, bahkan tidak sedikit lebih kuat dari pengurus-pengurus NU aktif sebab keberangkatannya dengan modal biaya sendiri.

Fenomena menjadi “Romli” atau Muktamirin-out memang unik, tapi yang perlu dipahami kehadiran mereka tidak lepas dari motif, apalagi dengan jumlah yang sangat besar melebihi jumlah peserta yang sah. Tanpa, motif yang mendorong, nampaknya tidak rasional orang yang tidak memiliki undangan datang dalam kegiatan muktamar NU, apalagi harus datang jauh-jauh meninggalkan keluarga dan berhari-hari. Kesaksian penulis di Muktamar NU ke 35, misalnya, bertemu dengan peserta ‘Romli” dari Sulawesi Selatan, yang sudah meninggalkan istri dan anak selama tujuh hari hanya karena ingin menghadiri acara muktamar NU ke-35 di Ponpes Tambakberas Jombang. Tidak hanya menghadiri, tapi sekaligus bisa bertemu Kiai, teman dan sesama Nahdliyin.

Tidak salah, bila kemudian dapat dikatakan kesuksesan panitia Muktamar NU bukan hanya dilihat dari keberhasilannya memberikan kemudahan akses bagi kebutuhan peserta aktif, tapi sekaligus diukur oleh bagaimana panitia mampu menyiapkan fasilitas khusus bagi kehadiran ‘Romli” yang pergerakannya memberikan dampak perekonomian yang luar biasa bagi masyarakat sekitarnya. Maka, jangan pernah menyepelehkan “romli’ sebab mereka memiliki harapan besar terhadap keberadaan NU, bisa jadi kehadirannya adalah bagian dari bukti mencintai NU; sebagai organisasi ulama.

 

Motif Pahala

Jika NU bukan organisasi ulama, mungkinkah istilah “Romli” tidak ada? Kalaupun ada, mungkinkan sebanyak “Romli” yang selalu hadir melimpah dalam setiap momentum Muktamar NU. Maka mengungkap fenomena “Romli” memiliki kaitan dengan eksistensi NU sebagai organisasi Ulama, dimana ulama sendiri memiliki kedudukan yang sangat mulia, setelah Nabi Muhammad Saw. Al-‘ulama warasta al-anbiya’ .

Itu artinya, motif menjadi “Romli” memiliki landasan teologis yang sangat kuat sehingga menjadi sebab ia harus hadir dimanapun berada dalam setiap muktamar. Kehadiran “Romli” Tidak sama dengan kehadiran orang yang datang untuk melihat konser atau melihat pertandingan sepakbola di stadion. Motif teologis ini yang disadari atau tidak, dalam reluk hati para “Romli’ dipastikan ada harapan tulus agar dapat keberkahan menghadiri kegiatan para ulama.

Motif teologis ini bisa ditemukan kaitan keutamaan menghadiri majelis ulama, melihat ulama dan duduk-duduk bersama ulama sebagai berikut:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

 

Artinya: "Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia...

 

مَنْ نَظَرَ إِلَى وَجْهِ عَالِمٍ نَظْرَةً فَفَرِحَ بِهِ، خَلَقَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مِنْ تِلْكَ النَّظْرَةِ وَالْفَرَحِ مَلَكًا يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِصَاحِبِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَة) رواه الحافظ ابن عساكر(

 

Artinya: “Barangsiapa memandang wajah seorang alim (orang yang berilmu) dengan pandangan yang menyenangkan (penuh rasa senang/hormat), maka Allah Ta'ala akan menciptakan dari pandangan itu seorang malaikat yang memohonkan ampunan baginya sampai hari kiamat. (Hadis riwayat ibnu ‘Asakir)

 

عليكم بمجالسة العلماء واستماع كلام الحكماء فإنّ الله تعالى يحي القلب الميت بنور الحكمة كما يحي الأرض الميتة بماء المطر

“Hendaklah kalian berkumpul dengan para ulama’ dan mendengarkan perkataan hukama’, karena sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang tandus dengan air hujan.”

Dari sini bisa dipahami, bahwa para “Romli” atau “Muktamirin Out” datang ke muktamar NU, termasuk Muktamar ke 35 di pondok pesantren Tambakberas Jombang dapat dipastikan bertemu, melihat dan bermujalasah dengan para kiai-kiai, terkhusus para kiai NU dari berbagai pondok pesantren di Indonesia. Kenyaatan ini bisa dikatakan, menjadi “Romli” dalam Muktamar NU adalah salah cara mengekpresikan kecintaan orang kepada ulama.

Akhirnya, yang “Romli” tetaplah bahagia dan Ikhlas, tanpa membuat kegaduhan di medsos. Biarkan forum muktamar NU yang keras melontarkan gagasan dan pilihannya. Tetaplah yakin, para muassis NU mendirikan NU bukan sekedar sebagai organisasi keduniawian, tapi organisasi yang dalam setiap kegiatan memiliki nilai pengabdian yang berpotensi mendapat pahala.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.