SANG KIAI, TELADAN YANG SEDERHANA



Abdul Basid* 
Alumni LPP al-Khoziny, Lulus angkatan 1998

“Setiap hari Jum’at, seperti biasa di pondok sejak penulis nyantri terdapat tradisi ro’an yang dilakukan secara turun-temurun. Tidak tahu, kapan tradisi ini dilakukan. Biasanya dilakukan secara bergantian setiap Jum’at, yakni bergantian antar komplek dengan area yang dibersihkan sesuai dengan ketentuan  setiap Jum’at. Di waktu itu, penulispun tidak ketinggalan sebab kali ro’an ini menjadi kewajiban komplek Darus Sholah (area depan Musholla) membersihkan tempat wudhu dan sekitarnya. Darus Sholah adalah tempat penulis berproses di komplek ini sejak tercatat sebagai santri baru, lantas berpindah ke Darul Falah, Darus Salam, dan baru setingkat Tsanawiyah selama tiga tahun kembali ke komplek Darus Sholah.

Di tengah asyiknya para santri membersihkan tempat wudhu dan jeding, Sang Kiai memantau sambil berkeliling pondok pesantren untuk melihat semua area pondok pesantren dan gedung-gedung madrasah. Tidak hanya itu saja, tidak jarang beliau dengan tangannya sendiri –yang lembut penuh berkah-- mengambil sampah-sampah yang masih belum terlihat dan belum tersentuh oleh santri yang ro’an untuk dimasukkan tong sampah, seperti sampah sisa plastik sampo, rinso dan lain-lain. Menariknya, kaos oblong putihnya selalu membersamai Sang Kiai setiap kali aksi nyata ini. Kaos oblongnya telah menjadi saksi bisu, bagaimana istiqamah Sang Kiai bukan hanya di Mushollah dan Majelis Ta’lim, tapi juga istiqamah juga untuk memastikan kebersihan pondok pesantren benar-benar nyata dengan terlibat aksi nyata dengan penuh keasyikan bersama para santrinya, setidaknya dalam kegiatan ro’an Jum’atan.”

………………….

Tafsir Keteladanan

Cerita di atas adalah salah satu dari cerita teladan dari Sang Kiai di masa hidupnya, yang menjadi pengamatan penulis sepanjang menimba ilmu di bawah asuhan sang Kiai Alim yang Sederhana ini. Apa yang diteladankan memiliki makna yang sangat penting bagi kita semua, khususnya para santri-santrinya. Pertama, tentang pentingnya kebersamaan dan kesederhanaan. Sang Kiai memberikan contoh betapa kebersamaan itu penting, begitu juga kesederhanaan dalam hidup sebab keduanya akan menumbuhkan hubungan mendalam dalam keharmonian interaksi sosial dengan siapapun.

Sekalipun Sang Kiai memiliki kedudukan yang sangat prestisius dengan kealiman ilmunya dan kharismanya di tengah masyarakat, beliau sangat sadar betul bahwa santri adalah bagian dari dirinya sehingga berinteraksi dengan santri harus dilakukan secara menyeluruh dan utuh. Bukan hanya dalam ruang resmi rutinan, seperti sholat berjama’ah di musholla dan majelis ilmu saja, tapi juga bersama para santri dalam praktik tradisi ro’an, semacam hari bersih-bersih pondok yang dilakukan bersama setiap Jum’at.

Menariknya, menurut penulis, Kaos oblong yang dipakai Sang Kiai setiap kali ro’an, menggambarkan kesederhanaannya, sekaligus bagaimana Sang Kiai sedang berkomunikasi secara simbolik dengan tidak menjaga jarak dengan para santrinya sebab baju yang dipakai setidaknya sama dengan baju yang dipakai mayoritas para santri. Sang Kiai bisa saja memakai baju kebesaran dengan jubah putih sebagai dipakainya disetiap menjadi imam sholat suubuh berjama’ah atau baju putih dan sarung serta surban sebagaimana dipakainya dalam menjadi imam selain sholat subuh, sekaligus mengisi pengajian pagi dan siang.

Dari kaos oblong ini bisa ditarik pelajaran agar siapapun orangnya yang berinteraksi dengan yang lain, terlebih sebagai guru, dosen, ustadz dan elite-elite sosial lainnya, untuk tidak menjaga jarak dengan yang lain atau orang yang dihadapi agar interaksi lebih nyaman, santuy dan tidak tegang. Di samping sebagai potret kesederhanaan, cara memakai kaos oblong Sang Kiai menunjukkan bahwa sentuhan lawan intekrasi sosial dengan simbol-simbol yang dekat dengan audiens sebab dengan itu apa yang disampaikan akan mudah dicernah, dan selanjutnya diterima. Contoh konkritnya, mereka yang menjadi pejabat, misalnya, yang memakai baju kebesaran dengan baju resmi dan bersepatu necis melakukan turba ke masyarakat, berbeda dengan pejabat yang memakai baju sederhana, apalagi baju yang dekat dengan rakyatnya alias tanpa pamer kekayaan.   

Keduanya, memberikan contoh aksi nyata. Ketika Sang Kiai, keliling pondok setiap kali ro’an sambil mengambil sampang –tanpa merasa gengsi__ mengajarkan bahwa memerintah dengan cara mempraktikkan sekaligus, memiliki daya sentuh yang luar biasa dari pada hanya memerintah saja. Pasalnya, memerintah, tapi tidak aksi memberikan daya tarik yang kurang maksimal, untuk tidak mengatakan sulit dilakukan. Hal ini mengingatkan ungkapan imam al-Ghazali dalam kitabnya Bidayatul Hidayah sebagai berikut:

لِسَانُ الْحَالِ أَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ، وَطِبَاعُ النَّاسِ إِلَى الْمُسَاهَمَةِ فِي الْأَعْمَالِ أَمْيَلُ مِنْهَا إِلَى الْمُتَابَعَةِ فِي الْأَقْوَالِ

“Dan bahasa perbuatan (keadaan) lebih fasih daripada bahasa ucapan. Dan tabiat manusia lebih cenderung untuk mengikuti tindakan daripada sekadar meniru perkataan.

Dari sini, kita layak belajar betapa keteladaan aksi itu jauh lebih penting dari pada banyak bicara. Bukankah, kurang maksimalnya perubahan dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara saat ini salah satunya disebabkan tidak satunya teori dengan praktik atau tidak satunya perkataan dengan perbuatan. Ketika para elite langsung memberikan teladan aksi, sebelum mereka memerintahkan, misalnya, maka dapat dipastikan rakyat akan mudah mengikutinya, setidaknya lepas dari kasak kusuk perdebatan di akar rumput.

Akhirnya, malam ini (24 Syawal 1447 H), Haul yang ke 16 Sang Kiai dilaksanakan, sekaligus Haul Sang Istri Beliau yang ke 15, yakni Haul KH.R. Abdul Mujib Abbas dan Nyai Hj. Mudawwamah Nai’muddin. Semoga kita senantiasa mengenang teladan yang telah diwariskan beliau-beliau, dan kelak dikumpulkan bersama beliau dan masyayikh al-Khoziny. Istiqamah Sang Kiai sulit dilupakan, dan layak menjadi teladan terbaik bagi keita semua. Amin.

........

*Nama ini adalah pemberian Sang Kiai, ketika sowan pertama kali mondok diantar langsung oleh almarhum Aba  tahun 1988 sebab nama formal adalah "Wasid"  

 

 

 


1 komentar:

  1. Mãsyā'ALLÕH Mãsyā'ALLÕH
    Semoga kita diberi kemudahan utk meneladani BELIAU semampu mungkin.

    Ãmīn ALLÕHUmmah Ãmīn

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.