Jejak Tarekat Sammaniyah di Madura dalam Naskah Kuno Cendana

Moh. Ainur Ridha
Pengabdi Nahdlatut Turots


Madura, khususnya Pamekasan, terbukti menjadi salah satu pusat penting penyebaran tarekat besar di Nusantara. Hal ini diperkuat oleh temuan filologis atas sejumlah naskah kuno di PP. Cendana Mubarok, Kadur, yang mengungkap kuatnya jejaring intelektual dan spiritual ulama tasawuf pada abad ke-18 hingga ke-19 Masehi, terutama dalam tradisi Tarekat Sammaniyah dan Khalwatiyah.

Salah satu tokoh kunci dalam temuan ini adalah Syaikh Abdul Ghafur bin Abbas al-Manduri, ulama besar asal Bangkalan, Madura. Melalui karya-karyanya, seperti Miftah al-Anwar fi Ma'rifati ‘Ilm al-Asrar dan ‘Iqd al-Watsiq fi ‘I‘tiqad Ahl al-Tahqiq, ia memberikan bukti otentik tentang keberlangsungan sanad keilmuan tasawuf yang bersambung langsung kepada Syaikh Muhammad Samman al-Madani, pendiri Tarekat Sammaniyah. Dalam matn naskahnya, Syaikh Abdul Ghafur secara eksplisit menyebut dirinya sebagai murid langsung tokoh tersebut.

Terkait karya Syaikh Abdul Ghafur, dua naskah di atas menjadi temuan baru, dari yang sebelumnya hampir dua dekade hanya ada satu naskah yang ternisbat kepadanya, yakni Al-Durrun al-Nafis yang ditemukan di Tanjung Pinang Kepulauan Riau.

Khusus naskah ‘Iqd al-Watsiq fi ‘I‘tiqad Ahl al-Tahqiq, diketahui ditulis sekitar tahun 1791 Masehi (1205 Hijriyah). Naskah ini kemudian disalin oleh Kiai Shihhah dari Beringin, Pamekasan, yang merupakan murid langsung Syaikh Abdul Ghafur. Kiai Shihhah sendiri diperkirakan hidup pada rentang awal hingga pertengahan abad ke-19 masehi. Informasi ini semakin menegaskan keberlanjutan transmisi keilmuan dari guru ke murid dalam lingkungan pesantren Madura.

Secara kronologis, masa hidup Kiai Abdul Ghafur yang aktif pada akhir abad ke-18 masehi tersebut dapat dinilai berada satu tingkat di bawah generasi Syaikh Yusuf al-Makassari (w. 1699 M), ulama besar Nusantara dalam tradisi sufisme Islam dan Pahlawan Bangsa.

Selain itu, posisi Syaikh Abdul Ghafur juga sezaman dengan Syaikh Abdus Shamad al-Palimbani, ulama terkemuka di dunia Melayu yang dikenal memiliki keterkaitan erat dengan Tarekat Sammaniyah. Hal ini menunjukkan adanya jejaring ulama lintas wilayah yang memperkuat penyebaran ajaran tasawuf di Nusantara.

Jejak dakwah Syaikh Abdul Ghafur masih terasa hingga kini. Praktik zikir dan ritual yang dikenal sebagai “Samman” masih hidup di tengah masyarakat Madura. Pengaruh ini tidak lepas dari posisinya sebagai ulama lokal sekaligus bagian dari jaringan intelektual global yang telah mengakar kuat.

Temuan penting ini muncul dalam rangka kegiatan pelestarian naskah kuno pesantren yang diinisiasi oleh Nahdlatut Turots bekerja sama dengan Universitas Annuqayah. Kegiatan ini turut melibatkan tim MBKM Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel Surabaya dalam proses digitalisasi dan pembersihan naskah.

Dari kegiatan tersebut, berhasil dipreservasi sebanyak 52 bundel naskah yang mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti fikih, tasawuf, dan tauhid. Seluruh naskah kini telah tersedia dalam bentuk digital, sehingga diharapkan dapat menjaga kelestariannya sekaligus memperluas akses bagi kalangan santri dan peneliti.

Selain karya Syaikh Abdul Ghafur, ditemukan pula naskah penting lainnya, yaitu Washilah al-Munjiyyah karya Syaikh Yusuf al-Makassari Taj al-Khalwati, ulama besar Nusantara sekaligus pahlawan nasional. Kehadiran naskah ini menjadi signifikan karena dalam sumber yang sama disebutkan bahwa Syaikh Abdul Ghafur juga merupakan penganut Tarekat Khalwatiyah. Sehingga berhubungan dua tokoh tersebut berada dalam satu tarekat yang sama.

Dengan demikian, keberadaan naskah-naskah ini tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan Islam di Nusantara, tetapi juga mengonfirmasi kuatnya jejaring intelektual dan spiritual antarulama lintas wilayah dan tarekat. Ke depan, pelestarian ini diharapkan tidak berhenti pada aspek fisik semata, tetapi dilanjutkan dengan kajian mendalam terhadap isi, konteks, dan kontribusi historisnya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.