PERSAUDARAAN DALAM KEABADIAN
Wajah Islam di Indonesia, memang tidak luput dari kuatnya tradisi
bersenyawa dengan ritual keagamaan, baik yang sifatnya ritual harian, mingguan
hingga tahunan. Khusus yang sifatnya tahunan adalah ritual perayaan hari raya Idul
Fitri yang dilaksanakan setiap selesai puasa Ramadhan, dengan takbiran berkeliling
atau di musalla serta surau, dan sholat idul fitri pagi harinya sesuai dengan
tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Senyawa tradisi dan ritual ini
yang kemudian sebagian orang memandangnya (khususnya kalangan wahabi salafi)
sebagai bid’ah yang harus dijauhkan.
Ritual ini, secara prinsip hampir sama dilakukan oleh umat Islam,
dimanapun adanya, termasuk di Indonesia. Tapi, yang berbeda dalam konteks
Indonesia adalah hadirnya tradisi berkunjung atau dikenal dengan tradisi
“unjung-unjung” dari satu orang ke orang yang lain, yang tradisi ini hampir
tidak ditemukan masifnya di negeri selain Indonesia. Bisa jadi, anak berkunjung
ke orang tua, saudara, tetangga hingga berkunjung ke guru yang telah ikut
berkontribusi mengajarkan banyak pengetahuan, terlebih yang mengenalkan
nilai-nilai dan moralitas Islam.
Di sisi yang berbeda, di sebagian daerah __terlebih perkotaan__ tradisi
unjung-unjung terus mengalami banyak perubahan. Biasanya, setiap rumah sudah
menyiapkan aneka makanan untuk disediakan bagi para tamu yang datang, seperti
Jelly, kacang, krupuk rambak, minuman dengan ragam cita rasa dan lain-lain. Di
samping itu, setiap rumah juga menyediakan “angpo” Idul Fitri yang akan
diberikan secara khusus kepada anak-anak kecil yang ikut berkunjung menyertai
orang tuanya. Bahkan juga kepada anak remaja yang belum menikah sebagai pelengkap
tradisi silaturrahim syawalan.
Dengan begitu, kearifan lokal ini menjadi keunikan tersendiri, yang
hampir __sekali lagi_ tidak ditemukan di negara yang lain. Karenanya, merawat
tradisi ini bisa menjadi sarana merawat persaudaraan. Pasalnya, ritual Idul
Fitri bukanlah ritual tahunan lepas dari makna sosial, ia merupakan momentum
penting sebagai media untuk mempertemukan antara satu dengan yang lain dalam
ruang kebahagiaan bersama sebagai Muslim dan bersama-sama telah berjuang menata
batin dalam tempaan madrasah Ramadan sepanjang bulan. Ruang pertemuan tahunan
inilah yang kemudian menjadi waktu antara bagaimana persaudaran itu terus
tumbuh, sekaligus sebagai sarana melelehkan individualisme untuk menyadari
bahwa yang lain adalah bagian dari dirinya yang harus dirawat keberadaannya.
NILAI PERSAUDARAAN
Menjaga persaudaraan adalah cara untuk melanggengkan hubungan baik
lintas kemanusiaan, yang dalam bahasa agama dikenal dengan silaturrahim.
Tradisi unjung-unjung begitu juga, pada intinya adalah dalam rangka membumikan
nilai propetik dari ajaran silaturrahim. Jadi semakin orang mudah
bersilaturrahim kepada yang lain, maka semakin mudah tumbuh berkembang jalinan
persaudaraan. Karenanya, sejatinya tradisi berkunjung sebagai sarana
silaturrahim tidak hanya terjadi pada momentum perayaan Idul Fitri, tapi bisa
dilakukan kapan saja dengan tujuannya yang mulia, yakni untuk menjaga keabadian
persaudaraan.
Persaudaran yang dekat akan menumbuhkan kecintaan yang kuat sebab agama menolak segala bentuk pertengkaran dengan siapapun, terlebih mereka yang masih terikat persaudaran senasab. Imam al-Ghazali __dalam kitab Bidayat al-Hidayah, hal 212, mengatakan bahwa kualitas hubungan seseorang dengan saudaranya menjadi gambaran kualitas imannya, redaksinya sebagai berikut:
لَا يَصِلُ العَبْدُ إِلَى حَقِيْقَةِ اْلِإيْمَانِ مَا لَمْ يُحِبَّ لِأَخِيْهِ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.
"Hamba
tidak akan sampai pada hakekat keimanan, sebelum dia mencintai saudaranya dan
semua umat Islam sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
Perkataan ini sangat
jelas dan tegas bahwa sejatinya keimanan diukur tidak hanya diukur dengan
kualitas dan kuantitas ritual peribadatan, tapi juga dengan sejauh mana
hubungan dirinya dengan saudara dan kalayak umat Islam. Mereka yang mengaku
beriman, tapi masih sering membuat onar sehingga saudaranya terganggu,
tetangganya terusik, bahkan orang muslim lainnya terganggu maka keimanannya
masih sebatas formalitas, belum sampai pada keimanan sesungguhnya. Artinya,
keimanan kepada Allah, misalnya, tidak akan sempurna jika kita belum menebarkan
rasa cinta kepada mahluknya, khususnya saudara dan sesama Muslim.
Oleh karenanya, tradisi
unjung-unjung, bila dikaitkan dengan perkataan ini memiliki makna yang luar
biasa sebab berkaitan dengan penguatan iman seseorang. Karenanya, ia layak
dipertahankan, walau tantangan terus terjadi melalui media hand-phone dimana
tradisi unjung-unjung dilakukan dengan merasa cukup di dunia maya. Padahal,
pertemuan fisik memiliki daya getar tersendiri dalam konteks psikologi
komunikasi. Anak yang mengucapkan “mohon maaf di hari idul fitri” akan kurang
afdhol bila hanya diucapkan dengan cara mengirim pesan pendek atau video pendek
melalui hand-phone, begitu juga antara satu orang ke orang yang lain,
Akhirnya, pertemuan fisik
saat unjung-unjung tidak bisa digantikan dengan ucapan apapun di whatsApp
dengan segala fasilitas unik yang disediakan di hand-phone. Pasalnya, pertemuan
fisik akan menumbuhkan kehangatan tersendiri sehingga semakin menumbuhkan
keakrapan dan kasih rayang. Semoga kita terus merawat tradisi ini sebagai
manifestasi dari kualitas iman kita. Mohon maaf lahir batin.
......
Gambar dikutip dari: https://www.suara.com/lifestyle/2026/03/04/135719/idul-fitri-2026-

Leave a Comment