PERSAUDARAAN DALAM KEABADIAN


WASID MANSYUR 
Wakil Ketua LTN NU Jatim, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Wajah Islam di Indonesia, memang tidak luput dari kuatnya tradisi bersenyawa dengan ritual keagamaan, baik yang sifatnya ritual harian, mingguan hingga tahunan. Khusus yang sifatnya tahunan adalah ritual perayaan hari raya Idul Fitri yang dilaksanakan setiap selesai puasa Ramadhan, dengan takbiran berkeliling atau di musalla serta surau, dan sholat idul fitri pagi harinya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Senyawa tradisi dan ritual ini yang kemudian sebagian orang memandangnya (khususnya kalangan wahabi salafi) sebagai bid’ah yang harus dijauhkan.

Ritual ini, secara prinsip hampir sama dilakukan oleh umat Islam, dimanapun adanya, termasuk di Indonesia. Tapi, yang berbeda dalam konteks Indonesia adalah hadirnya tradisi berkunjung atau dikenal dengan tradisi “unjung-unjung” dari satu orang ke orang yang lain, yang tradisi ini hampir tidak ditemukan masifnya di negeri selain Indonesia. Bisa jadi, anak berkunjung ke orang tua, saudara, tetangga hingga berkunjung ke guru yang telah ikut berkontribusi mengajarkan banyak pengetahuan, terlebih yang mengenalkan nilai-nilai dan moralitas Islam.   

Di sisi yang berbeda, di sebagian daerah __terlebih perkotaan__ tradisi unjung-unjung terus mengalami banyak perubahan. Biasanya, setiap rumah sudah menyiapkan aneka makanan untuk disediakan bagi para tamu yang datang, seperti Jelly, kacang, krupuk rambak, minuman dengan ragam cita rasa dan lain-lain. Di samping itu, setiap rumah juga menyediakan “angpo” Idul Fitri yang akan diberikan secara khusus kepada anak-anak kecil yang ikut berkunjung menyertai orang tuanya. Bahkan juga kepada anak remaja yang belum menikah sebagai pelengkap tradisi silaturrahim syawalan.

Dengan begitu, kearifan lokal ini menjadi keunikan tersendiri, yang hampir __sekali lagi_ tidak ditemukan di negara yang lain. Karenanya, merawat tradisi ini bisa menjadi sarana merawat persaudaraan. Pasalnya, ritual Idul Fitri bukanlah ritual tahunan lepas dari makna sosial, ia merupakan momentum penting sebagai media untuk mempertemukan antara satu dengan yang lain dalam ruang kebahagiaan bersama sebagai Muslim dan bersama-sama telah berjuang menata batin dalam tempaan madrasah Ramadan sepanjang bulan. Ruang pertemuan tahunan inilah yang kemudian menjadi waktu antara bagaimana persaudaran itu terus tumbuh, sekaligus sebagai sarana melelehkan individualisme untuk menyadari bahwa yang lain adalah bagian dari dirinya yang harus dirawat keberadaannya. 

 

NILAI PERSAUDARAAN

Menjaga persaudaraan adalah cara untuk melanggengkan hubungan baik lintas kemanusiaan, yang dalam bahasa agama dikenal dengan silaturrahim. Tradisi unjung-unjung begitu juga, pada intinya adalah dalam rangka membumikan nilai propetik dari ajaran silaturrahim. Jadi semakin orang mudah bersilaturrahim kepada yang lain, maka semakin mudah tumbuh berkembang jalinan persaudaraan. Karenanya, sejatinya tradisi berkunjung sebagai sarana silaturrahim tidak hanya terjadi pada momentum perayaan Idul Fitri, tapi bisa dilakukan kapan saja dengan tujuannya yang mulia, yakni untuk menjaga keabadian persaudaraan.

Persaudaran yang dekat akan menumbuhkan kecintaan yang kuat sebab agama menolak segala bentuk pertengkaran dengan siapapun, terlebih mereka yang masih terikat persaudaran senasab. Imam al-Ghazali __dalam kitab Bidayat al-Hidayah, hal 212, mengatakan bahwa kualitas hubungan seseorang dengan saudaranya menjadi gambaran kualitas imannya, redaksinya sebagai berikut:

لَا يَصِلُ العَبْدُ إِلَى حَقِيْقَةِ اْلِإيْمَانِ مَا لَمْ يُحِبَّ لِأَخِيْهِ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.

"Hamba tidak akan sampai pada hakekat keimanan, sebelum dia mencintai saudaranya dan semua umat Islam sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

Perkataan ini sangat jelas dan tegas bahwa sejatinya keimanan diukur tidak hanya diukur dengan kualitas dan kuantitas ritual peribadatan, tapi juga dengan sejauh mana hubungan dirinya dengan saudara dan kalayak umat Islam. Mereka yang mengaku beriman, tapi masih sering membuat onar sehingga saudaranya terganggu, tetangganya terusik, bahkan orang muslim lainnya terganggu maka keimanannya masih sebatas formalitas, belum sampai pada keimanan sesungguhnya. Artinya, keimanan kepada Allah, misalnya, tidak akan sempurna jika kita belum menebarkan rasa cinta kepada mahluknya, khususnya saudara dan sesama Muslim.

Oleh karenanya, tradisi unjung-unjung, bila dikaitkan dengan perkataan ini memiliki makna yang luar biasa sebab berkaitan dengan penguatan iman seseorang. Karenanya, ia layak dipertahankan, walau tantangan terus terjadi melalui media hand-phone dimana tradisi unjung-unjung dilakukan dengan merasa cukup di dunia maya. Padahal, pertemuan fisik memiliki daya getar tersendiri dalam konteks psikologi komunikasi. Anak yang mengucapkan “mohon maaf di hari idul fitri” akan kurang afdhol bila hanya diucapkan dengan cara mengirim pesan pendek atau video pendek melalui hand-phone, begitu juga antara satu orang ke orang yang lain,

Akhirnya, pertemuan fisik saat unjung-unjung tidak bisa digantikan dengan ucapan apapun di whatsApp dengan segala fasilitas unik yang disediakan di hand-phone. Pasalnya, pertemuan fisik akan menumbuhkan kehangatan tersendiri sehingga semakin menumbuhkan keakrapan dan kasih rayang. Semoga kita terus merawat tradisi ini sebagai manifestasi dari kualitas iman kita. Mohon maaf lahir batin. 

......

Gambar dikutip dari: https://www.suara.com/lifestyle/2026/03/04/135719/idul-fitri-2026-

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.