MUDIK, KEMANUSIAAN HINGGA KEBANGSAAN
Wasid Mansyur
Wakil Ketua PW LTN NU Jatim, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya
Setiap akhir Ramadan, salah satu tradisi yang selalu menjadi perhatian orang adalah “mudik” atau “toron” menurut istilah orang Madura. Khusus kata “toron” sebenarnya memiliki makna “turun”. Tidak tahu kapan istilah ini identik dimaknai dengan tradisi pulang kampung bagi masyarakat Madura. Pastinya, bila dilihat dari perkembangan alat transportasi di Madura, istilah “toron” itu dikaitkan dengan kapal sebagai salah satu alat tranportasi menuju Madura, sebelum adanya jembatan Suramadu sejak diresmikan tahun 2009. Mereka yang mau pulang Madura, dapat dipastikan naik-turun kapal, walaupun dalam perkembangannya tradisi “toron” jelang akhir ramadan memiliki keunikan tersendiri sebagai mana tradisi “mudik” berkembang bagi orang selain dari Madura.
Tilikan di atas bila dilihat dari perspektif antropologi budaya menunjukkan bahwa tradisi Mudik sangat dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Ada banyak makna berkelindan dalam tradisi ini untuk menegaskan kesejatian kita sebagai manusia dengan batasan usia yang jelas, sekaligus tidak jelas. Jelas, karena manusia akan dibatasi oleh waktu, dan tidak jelas sebab batasan waktu setiap orang berbeda-beda dan tidak ada yang tahu kapan batasan waktunya itu tiba. Batasan waktu yang dimaksud adalah kematian, yakni suatu waktu dimana umur manusia berakhir.
Oleh karenanya, nilai-nilai kemanusiaan yang sangat menonjol sehingga layak tidak dilupakan setiap Muslim dalam setiap momentum mudik adalah mengingat asal usul diri sendiri, sekaligus menyambungkan persaudaraan yang jauh agar terus semakin dekat. Pertama, tentang asal usul, bahwa mereka yang merantau ke kota sebenarnya telah membawa perangkat nilai lokal, yang kemudian berdialektika dengan nilai-nilai lain yang ada di kota sebagai tujuan. Tidak jarang, mereka yang merantau lupa terhadap kearifan nilai lokalnya akibat tergerus oleh kerasnya pertarungan di kota di tengah ketatnya mencari ekonomi.
Sikap ramah dan gotong royong yang biasanya tumbuh subur di desa sebagai asal usul perantau, ternyata mulai hilang dengan hadirnya nilai individualisme yang lazim berkembang diperkotaan dengan segala kesibukannya setiap hari. Karenanya, mereka yang mudik ke kampung halaman sebenarnya sedang proses “ngecas” kembali kepada kearifan lokal (local wisdom) agar terus tumbuh kembali sehingga jangan pernah membawa nilai-nilai negatif dari kota agar kearifan mudik tidak rusak, sekaligus tetap memiliki nilai ibadah.
Kedua, menyambung silaturrahim dengan famili yang jauh agar semakin dekat. Anak yang mudik bisa sungkem dengan orang tua dan sekenap keluarga, yang sebelumnya lama tidak bertemu secara fisik. Persambungan ini memiliki makna luar biasa dan bernilai ibadah sebab Islam mengajarkan agar silaturrahim tetap dijaga, dan hindari memutus jalinan silaturrahim. Bukan hanya itu, mudik bisa menyambungkan dengan masyarakatnya di mana ia dilahirkan, di samping juga menyambungkan nilai-nilai kebudayaan yang mulai terkikis ketika berada di perantauan.
Jadi, mereka yang mudik sudah saatnya tidak pamer kekayaan di tempat tujuannya. Pasalnya, cara pamer kekayaan atau mempraktikkan prilaku yang tidak sesuai dengan budaya lokal cenderung melahirkan gap komunikasi dengan sanak keluarga, bisa jadi juga dengan masyarakat. Dengan begitu, mudik tidak lagi memiliki makna, alih-alih menjadi aktivitas yang bernilai ibadah. Padahal, salah satu esensi mudik adalah menyambung silaturrahim, sekaligus menguatkan rasa kepekaan sosial sehingga mereka yang mudik perlu berbagi rizki kepada yang lain, lebih-lebih kepada orang tua dan saudara.
Ruang Kebangsaan
Dalam ruang kebangsaan, makna mudik dapat dipahami agar kita semua mudik kepada jati diri sebagai anak bangsa, yang lahir dan dipastikan meninggal di tanah air Indonesia. Mudik kepada jadi diri ini memungkinkan kita semua harus sadar kembali untuk mempertanyakan soal komitmen kepada nilai-nilai kembangsaan, lebih-lebih elite penguasa; baik dari pusat hingga daerah.
Mudiknya para elite penguasa tidak lain kembali ke asul usul dirinya berkuasa, sekaligus bagaimana kekuasaan itu memiliki persambungan yang nyata dengan kesejahteraan rakyat. Pemimpin umat sejatinya adalah pelayan, “sayyidu al-nas khadimuhum”, tegas salah satu quote yang masyhur kaitan perbincangan tentang hakekat kepemimpinan, termasuk kepemimpinan di semua level berbangsa dan bernegara. Mereka yang siap menjadi pemimpin, mestinya siap memberikan pelayanan prima untuk mewujudkan kesejahteraan raknya. Ketika itu, tagline Suara Rakyat, Suara Tuhan tidak menjadi slogan mati tanpa memiliki makna bagi kesejahteraan rakyat sebagaimana Tuhan.
Sangat ironis, kita masih menemukan elite politik yang terjebak korupsi di semua level. Bahkan, belum maksimalnya kesejahteraan sebagai tujuan inti dari semua kebijakan yang dilahir. Kalaupun ada kebijakan yang populis, nampaknya dalam praktisnya tidak benar-benar populis untuk kesejahteran rakyat. Tapi, malah menjadi ajang “bargaining” elite politik dengan terus mengail keuntungan dalam setiap kebijakan, untuk tidak mengatakan “bancaan” anggaran dengan segala model pembiayaan dan pembenarannya.
Kalau realitas seperti ini tidak segera berubah atau tidak ada upaya mudik ke hakikat jati diri berkuasa, maka jangan pernah berharap welfare state benar-benar terjadi. Mengingat, mengutip J.M Keynes, welfare state adalah negara yang pemerintahannya menjamin terselenggaranya kesejahteraan rakyat. Untuk menuju kearah ini, maka dibutuhkan nilai-nilai kehidupan berbangsa yang berkelindan dalam lima pilar yang terpraktikkan, yaitu: Demokrasi, Penegakan Hukum, Perlindungan Hak Asasi Manusia, Keadilan Sosial dan Anti Diskriminasi.
Last but not least. Mudik bukanlah ritual tahunan yang melelahkan tanpa makna. Mudik mengingatkan agar kita kembali kepada asal usul sekaligus terus memiliki tekad menjaga hubungan baik dengan sesama. Saatnya kita mudik untuk kebersamaan sesuai dengan profesinya. Yang menjadi pengajar, mari mudik ke status pengajar yang berkarakter, bukan sekedar bermain teori, tapi juga menjadi teladan kepada anak didik. Yang menjadi penguasa, mari mudik menuju komitmen mewujudkan kesejahteraan yang sesungguhnya, dan hindari pamer kekayaan sebab ini semakin menyakiti rakyat di tengah mereka berjuang memenuhi kebutuhannya. Semoga kita semua benar-benar Mudik untuk kemanusiaan dan kebangsaan. (@)
..........
gambar dikutip di:
https://id.images.search.yahoo.com/yhs/search?p=gambar+mudik+karikatur&fr=yhs-fc-5326_8&type=fc_A7493494B8B_s69_g_e_d_n1000_c999&hspart=fc&hsimp=yhs-5326_8&imgurl=https%3A%2F%2Fcdn.kibrispdr.org%2Fdata%2F463%2Fgambar-mudik-kartun-46.jpg#id=9&iurl=https%3A%2F%2Fcdn.kibrispdr.org%2Fdata%2F463%2Fgambar-mudik-kartun-46.jpg&action=click

Leave a Comment