USTAD. ACHMAD SHODIQ FIRDAUS; SOSOK ALIM YANG "NGEMONG"
Pagi Senin,
setelah sholat subuh berjamaah di Langgar Kampung Jombang (16/02/2026), penulis
dikagetkan dengan kabar melalui WAG IS-ALUNY yang dikirim oleh inisial “hbusri
336” dengan kalimat berbunyi “Assalamualakum warahmatullah wa barokatuh…
innalillahi wa innaa Ilahi rojiun. Ustadz Shodiq Firdaus Allah Yarham telah di
Ambil oleh Allah, Insyaallah dalam keadaan Husnul Khotimah mohon
doanya untuk pak Shodiq dan keluarga”.
Kalimat ini
sontak meramaikan jagat komunikasi via WhatsApp di semua group yang terkoneksi
dengan al-khoziny. Ucapan duka untuk Ustad Ach. Shodiq Firdaus, M.Pd.I terus
mengalir bersaut sautan mulai pagi hingga tulisan ini dibuat, baik dari
perorangan maupun dari lembaga. Bagi kawan-kawan santri angkatan 1980an akhir
hingga 2000 awal, nama Ustad Ach. Shodiq Firdaus sulit dilupakan kaitan
jasa-jasanya dalam mengawal keberlangsungan pembelajaran di Lembaga Pesantren
al-Khoziny Buduran Sidoarjo.
Menariknya,
Ustad Ach. Shodiq Firdaus adalah sosok unik dengan
kemampuan literasi puitisnya yang sangat kuat. Banyak catatan puitisnya yang
ditulis dalam buku pribadinya ketika penulis masih aktif sebagai santri, bahkan
dalam laman FBnya kita masih banyak kalimat puitisnya menyapa para
"aktivis FB" kaitan mahabbah hingga kaitan dengan hal-hal yang
bernuansa sufistik.
Ratusan, bisa jadi sampai ribuan santri di
al-Khoziny yang mendapat sentuhan dingin Ustad. Ach. Shodiq Firdaus
dalam proses transfer pengetahuan yang diperolehnya dari para guru
al-Khoziny dari kelas ke kelas dalam beberapa periode. Karenanya, Ustad. Ach.
Shodiq Firdaus, bukan hanya ustad senior, tapi sosok laksana pembawa lentera
keilmuan; khususnya kaitan mengajar dan belajar. Karenanya, anak didiknya,
sekaligus anak ideologis, merasa sangat kehilangan, bukan hanya keluarga. Lahul
Fatihah.
Sebagai
kesaksian baik. Penulis adalah santri angkatan 1988, dan ketika itu masuk kelas
3 Ibtidayah karena memang sejak awal mondok penulis tidak memiliki bekal
pengetahuan kaitan dengan penguasaan kitab kuning, kecuali hanya mengaji kitab
Sullam al-Taufiq yang dikawal langsung oleh “Embuk” di rumah. Ketika itu, nama
Ustad. Ach. Shodiq Firdaus sudah sangat dikenal dalam mengawal proses
belajar-mengajar kelas diniyah Tingkat Tsanawiyah.
Ada hal-hal baik
yang menurut saya penting untuk meneruskan warisan baik Ustad. Ach. Shodiq
Firdaus. Pertama, tanggung jawab sebagai pengajar. Masih sangat ingat betul,
bagaimana ketika penulis masih sebagai siswa ibtidayah tahun 1988 hingga 1991,
Ustad. Ach. Shodiq Firdaus sudah mengawal betul beberapa kitab yang diajarkan;
mulai dari “syarh al-Fiyah ibn Aqil” hingga “kitab faroid” kaitan dengan
bahasan hitungan warisan.
Penulis yang
masih siswa ibtidaiyah hanya bisa melihat, bagaimana kemampuan mengawal
pembelajaran Ustad. Ach. Shodiq Firdaus luar biasa, setiap kali melihatnya
dijam-jam lonceng berbunyi sebagai tanda masuk kelas diniyah, setiap kali pula
melihatnya melangkahkan kaki dengan istiqamah, dengan tumpukan kitab yang ada
ditangannya untuk diajarkan dari satu kelas ke kelas yang lain. Tanggung jawab "Ngemong" anak didiknya, baginya bagian dari tanggung jawab sebagai guru yang harus disampaikan. Hanya saja,
penulis sendiri sampai ke tingkat Tsanawiyah tidak mendapatkan bimbingan
intensif dari Ustad. Ach. Shodiq Firdaus, kecuali kitab Faroid.
Kedua, kemauan
belajar Ustad. Ach. Shodiq Firdaus tidak pernah puas, untuk tidak mengatakan
sebagai sosok penggila ilmu. Walau sudah menjadi Ustad. senior di al-Khoziny,
ia haus pengetahuan hingga terus belajar dengan melanjutkan pendidikan formal
tingkat tinggi dan tercatat sebagai lulusan S2 PAI tahun 2014 dari Kampus
al-Khoziny dengan mendapat beasiswa dari Pergunu (Persatuan Guru NU).
Dari sini, kita
bisa belajar dari Ustad. Ach. Shodiq Firdaus, bahwa mencari ilmu tidak ada
batasannya, baik umur atau antara formal dan non formal. Ustad. Ach. Shodiq
Firdaus, walau sudah dipandang senior, ia kuliah di kampus tidak jarang
berkumpul dengan para yuniornya __bahkan murid-muridnya__, ia tidak pernah
merasa malu sedikitpun, mengingat kebutuhan sekolah formal juga sangat penting
bagi penguatan ilmu. Baginya belajar adalah cara terbaik untuk meningkatkan
pengetahuan, apalagi di dunia perguruan tinggi yang sebelumnya pernah
sebelumnya dikenal.

Leave a Comment