KIAI KAMPUNG DITULIS ?

 

Wasid Mansyur
Wakil Ketua LTN NU Jawa Timur, Aktivis Komunitas Santri Sejarah (KS2) 

Menulis tokoh adalah melanggengkan keteladanan. Itulah pernyataan yang sulit ditolak sebab dengan adanya orang yang peduli menulisnya, maka tokoh yang ditulis akan dibaca dan keteladanannya akan dikenal. Bukankah banyak orang terinspirasi mengerjakan kebaikan disebabkan membaca keteladan tokoh,  misalnya sejarah Nabi Muhammad, Imam Syafi’i, Imam al-Ghazali hingga __misalnya—biografi Hadlratus Syekh Kiai Hasyim Asy’ari, Gus Dur dan lain.

Untuk itu, semangat menulis Kiai Kampung tidak bisa dilepaskan dari nilai di atas. Buku yang berjudul “Cahaya Sang Kiai: Meneladani Perjuangan dan Pengabdian Kiai Kampung” menarik kehadirannya sehingga layak dibaca oleh semua kalangan. Pasalnya, para aktivis LTN NU Diwek Jombang merangkai tulisan ini menarik; setidaknya membangunkan ingatan sejarah tentang tokoh yang ditulis dengan jenis Kiai Kampung yang dekat dengan mereka.

Ada hal yang menarik dari buku ini, pertama, memilih Kiai Kampung adalah pilihan yang unik sebab tidak sedikit para penulis, apalagi kalangan akademisi dalam menulis karyanya, lebih banyak memilih tokoh-tokoh yang sudah dikenal. Padahal Kiai Kampung sejatinya tokoh yang lebih dekat dengan masyarakatnya sebab kehidupannya dihibbahkan untuk “mengemong” dan memberikan pencerahan. Kiai Kampung tidak begitu akrab dengan elite-elite pejabat, sebab para elite biasanya lebih memilih tokoh kiai yang sudah terkenal sesuai dengan kalkulasi pragmatism politik.

Kiai Kampung adalah sosok penuh nilai, yang tidak sedikit lepas dari bidikan untuk ditulis. Padahal, perannya sangat penting, misalnya dalam buku ini disebutkan sosok lima perempuan tangguh yang banyak berjasa dalam pengembangan pendidikan, termasuk meneladankan kebaikan dalam bermasyarakat dan berbangsa. Sebut saja: Nyai Jamilah, Siti Saudah, Nyai Muchsinah Ya’qub, Nyai Muniroh hingga Sri Wahyuningsih. Jika ingin meneladani tokoh, bacalah tokoh yang sudah masyhur. Tapi, jangan pernah melupakan tokoh kampung atau Kiai Kampung yang sudah berjasa memberikan keteladalan di lingkungan terdekat kita.  

Kedua, menulis perempuan adalah jalan keseimbangan. Buku ini menarik sebab juga menyebutkan perempuan yang ditulis sebagaimana disebutkan sebelumnya, walau dalam cover tidak menyebutkan kata Bunyai atau Ustadzah. Tim penulisnya sangat peka dalam hal ini, mengingat bukan hanya Kiai Kampung yang dapat berjasa membentuk kultur masyarakat religius, tapi banyak juga perempuan-perempuan tangguh ikut andil terlibat dalam dakwah melalui pendidikan dan pendampingan lainnya di tengah masyarakat.

Padahal, perempuan diidentikkan sebagai sosok yang tidak lepas dari merawat anak hingga menyelesaikan urusan domistik. Penyebutan Bunyai atau tokoh perempuan menunjukkan kadar buku ini lepas dari bias gender, walau dalam konteks kuantitas jumlah tokoh yang ditulis tidak berbanding dengan jumlah laki-laki. Tapi, setidaknya memberikan ruang keseimbangan bahwa perempuan layak dibaca dan diteladani perannya.

Akhirnya, belajarlah dari tokoh-tokoh terdahulu sebab mereka mampu mewariskan keteladanan kepada generasi terkini. Kiai Kampung –disamping kiai-kiai masyhur__ adalah bagian dari tokoh yang layak ditulis, dibaca dan diteladani sebab peran mereka cukup besar dalam mencerahkan umat, walau dengan keterbatasan akses dan lain sebagaimana. Berbekal semangat dan ikhlas, Kiai Kampung dan Bunyai Kampung memilih jalan kebaikan untuk umat, bukan untuk kepuasan pribadi. Selamat membaca!.

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.