SYEKH UMAR, SANTRI SEPANJANG HAYAT
Wasid Mansyur
Alumni al-Khoziny Tahun 1998
Pagi tepat pukul 04.52, penulis sempat membuka group whatsAp “Konco Salawase”, ternyata dikagetkan dengan kabar yang disebarkan oleh Lora Muadz dengan redaksi sebagai berikut: "Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un.. tlh wafat sdr kita. Bdr Umar Faruq Baidhowi sendang dajah, pagi ini Senin 5-1-26 /16-rojab-1447 H. SMG amal ibadahnya di terima, dosa 2 nya di ampuni & di masukkan ke surga nya & keluarga yg di tinggal kan dlm ketaqwaan, kesabaran, ketabahan.. 😭🤲🤲🤲 amin"
Kabar meninggalnya
Syekh Umar, biasa penulis memanggilnya, turut mengingatkan hubungan penulis
dengannya semenjak di pondok pesantren al-Khoziny sekitar tahun 1990an. Anggota
group whatsAp terus mengalir mendoakannya, termasuk group alumny al-Khoziny.
Pasalnya, WhatsAp "Konco Salawase" memang group internal yang
anggotanya adalah alumni seangkatan dengan almarhum, yang lulus Aliyah tahun sekitar
1997an. Semuanya kaget sebab tidak ada kabar Syekh Umar mengalami sakit, tapi
begitulah kematian datang tanpa diundang teringat syair :
يا من بدنياه اشتغل # و غره طول الأمل
الموت يأتى بغتة # والقبر صندوق العمل
“Wahai orang yang
disibukkan dengan urusan dunia, dan panjangnya angan-angan. (Ingatlah)
kematian itu datangnya tiba-tiba, dan kuburan adalah tempat (balasan) amal.”
Panggilan Syekh kepada almarhum adalah bagian kesaksian penulis atas istiqamahnya pada ilmu; dengan belajar dan mengajar. Pertama, panggilan syekh menunjukkan bahwa sejak pertemanan dengannya menunjukkan ia adalah santri tulen sepanjang hayat. Ketekunannya dalam belajar sangat kuat sebab ia selalu menjadi rujukan kawan-kawan, bahkan hampir selalu hadir istiqamah dalam forum pengajian yang diasuh oleh romo Kiai: mulai almarhum KHR. Abdul Mujib Abbas, KHR Abdus Salam hingga almarhum KH. Nurul Huda Nawawi.
Penulis sendiri
ketika di pondok pesantren al-Khoziny, dalam banyak hal sering konsultasi
kaitan pemaknaan kitab kuning kepada Syekh, walau tidak sedikit menjadi "lawan diskusi" dalam
setiap momentum musyawaroh kitab kuning. Bagi penulis, Syekh Umar adalah santri
tulen dan jarang bicara, kecuali jika dibutuhkan, apalagi berkaitan ilmu ia
tidak pernah menunda. Ketekunannya belajar, khususnya ilmu alat (Nahwu-Saraf),
semakin memantapkan dirinya sebagai santri pecinta ilmu yang sangat tinggi,
bahkan sampai meninggal ia masih bergulat dengan ilmu-ilmu keislaman sebagai
salah satu Kiai di Sendang Dajah Bangkalan yang mendidik kader-kader santri, sekaligus
menyapa masyarakat dengan ilmu dan kesederhanaan.
Kedua, Syekh Umar
adalah teman yang baik yang selalu memberikan suport dan tidak merepotkan yang
lain. Pertemanan dengan penulis memang tidak akrab sebab kamarnya juga tidak
satu komplek, tapi disatukan dalam sesama angkatan. Sesakali ia kirim kabar,
baik melalui group WhatsAp "Konco Saklawase", atau terkadang melalui
pesan pribadi. Ia sering mengabarkan dan menanyakan kabar, intinya saling sapa
dan menanyakan keadaaan untuk saling mendoakan.
Akhirnya, Kecintaannya kepada ilmu sepanjang hayat, semoga menjadi jalan kemudahannya untuk memperoleh rahmat dari Allah, dan dikumpulkan bersama para masyayikh al-Khoziny yang selalu mengajak agar terus dalam tarekat keilmuan dengan belajar dan mengajar. Selamat Jalan Syekh Umar atau Kiai Umar Faruq Baidlowi atau panggilan mulia lainnya Bdr. Umar Faruq Baidlowi, “mander selalu sae dengan rahmat Allah SWT. Laka Alfatihah…
NB: Photo di bawah ini adalah photo Syekh Umar bersama teman seangkatan, ketika acara pembacaan kitab Dardir a'la Qissaat al-Mi'raj bagi kelas III Aliyah, tahun 1997an, di hadapan Syaikhina KHR Abdul Mujib Abbas dan para santri.


Leave a Comment