MUKTAMAR NU KE-35: MOMENTUM TITIK BALIK KEBANGKITAN ULAMA

 


Oleh: Wildan Ainur Aditiya

Kader PC GP Ansor Surabaya,
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya


Tak terasa perhelatan Muktamar NU ke-35 yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang semakin dekat dan rasa-rasanya hanya tinggal menghitung hari lagi. Segala bentuk persiapan telah banyak dilakukan oleh para panitia, baik dari Organizing Comitte (OC) selaku panitia pelaksana yang bertanggungjawab dalam urusan teknis di lapangan maupun dari pihak Steering Comitte (SC) yang bertanggungjawab mengenai konsep dan suprastruktur acara. Persiapan yang dilakukan oleh para panitia bisa dikatakan sangat-sangat kompleks, mulai dari urusan yang berkaitan dengan kepesertaan, fasilitas dan akomodasi selama kegiatan berlangsung, hingga materi-materi persidangan, sehingga dengan kompleksitas ini dibutuhkan keseriusan dan ketelitian di dalamnya.

Mengingat muktamar ini adalah muktamar pertama di abad kedua NU, maka kesuksesan dan dinamika yang akan terjadi di dalam pelaksanaan muktamar ini (baik di dalam forum maupun di luar forum) akan sangat berpengaruh pada gerak dan perjalanan NU dalam mengarungi abad keduanya. Apapun yang terjadi pada Muktamar NU ke-35 sangat berpengaruh panjang terhadap perjalanan NU, organisasi para ulama yang menganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kita mungkin perlu untuk melihat ke belakang untuk membaca fragmen-fragmen sejarah NU di awal masa pendiriannya hingga menginjak usia yang ke seratus tahun, mulai dari awal pendirian organisasi ini, seperti yang telah umum diketahui bersama sebelum NU lahir setidaknya telah ada tiga sampai empat embrio organisasi maupun gerakan yang menjadi cikal bakal berdirinya NU. Organisasi-organisasi ini adalah Taswirul Afkar (Potret Pemikiran) atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikr (Kebangkitan Pemikiran) yang berdiri pada tahun 1914 sebagai wadah untuk mengasah ketajaman intelektual kaum santri dan masyarakat Islam tradisionalis agar tidak mudah terjebak dalam hegemoni dan propaganda yang dilakukan pemerintah kolonial, sebagai hasil dari forum diskusi dan dialektika ilmiah yang dilakukan di Taswirul Afkar, maka lahirlah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916 yang menjadi wadah dalam melawan hegemoni pemerintah kolonial melalui jalur pendidikan dan politik, lalu ada lagi organisasi yang bernama Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar) pada tahun 1918 sebagai wadah berkumpulnya para kaum saudagar yang berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah untuk mewujudkan kemandirian ekonomi dan mendukung dakwah yang dilakukan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.

--------------------

Disadari maupun tidak, ketiga organisasi di atas telah memberikan peran yang sangat krusial kaitannya sebagai embrio awal bagi lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama. Seperti yang telah kita ketahui bersama, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi lahir pada tanggal 31 Januari 1926 M (16 Rajab 1344 H) di Surabaya, hal ini dapat dilihat dalam Anggaran Dasar NU Bab I, Pasal 1, Ayat 2. Sebagai organisasi yang lahir dari tiga embrio pergerakan, maka NU dalam perjalanannya senantiasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengupayakan tujuan-tujuan mulia dari ketiga organisasi tersebut dapat tercapai dan terlaksana dengan baik. Jika merujuk pada hal diatas, setidaknya ada tiga tanggung jawab besar yang selamanya _ilaa yaumil qiyamah akan diemban oleh NU.

Pertama, adalah tanggung jawab keilmuan, hal ini tercermin dari organisasi Taswirul Afkar yang memiliki fokus pada upaya mencerdaskan kaum santri, membangun tradisi berpikir kritis di kalangan santri, hingga pemberdayaan kaum pribumi melalui akses pendidikan. Kedua, tanggung jawab pemerataan akses pendidikan dan kesadaran politik, hal ini dicerminkan oleh Nahdlatul Wathan yang gerakannya berfokus pada upaya pemerataan akses pendidikan bagi kaum santri dan masyarakat umum menengah ke bawah, serta upaya menumbuhkan kesadaran politik melalui penanaman rasa cinta terhadap tanah air. Dan tanggung jawab yang ketiga, adalah mewujudkan kesejahteraan ekonomi, hal ini dapat disaksikan pada organisasi Nahdlatut Tujjar yang memiliki tujuan utama untuk mengangkat perekonomian umat, menjadi penopang finansial dakwah, hingga menghidupi para pendidik dan masyarakat sosial yang membutuhkan.

Menariknya, ketiga organisasi yang menjadi embrio awal bagi berdirinya NU ternyata memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. Seakan-akan pembentukan ketiga organisasi tersebut telah dirancang dengan matang oleh para muassis yang memiliki pandangan sangat visioner dalam menatap masa depan yang akan datang, namun tetap berpijak pada keteladanan dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW. Dimulai dari Taswirul Afkar, organisasi ini menjadi yang pertama didirikan, sebab segala gerakan dan cita-cita besar memang harus dimulai dari fondasi keilmuan yang kokoh dan mengakar kuat agar tak mudah diterpa oleh angin ketika mulai tumbuh dan berkembang. Hal ini sejalan dengan peristiwa turunnya wahyu yang diterima pertama kali oleh Rasulullah SAW, yakni surat al-Alaq ayat 1-5 yang berisi tentang perintah membaca sebagai sarana pembelajaran dalam memperoleh ilmu pengetahuan.

Setelah fondasi intelektual dan keilmuan sudah mulai kokoh, berdirilah organisasi Nahdlatul Wathan sebagai representasi dari aksi dan gerakan dalam mengaplikasikan apa yang telah diperoleh dari berbagai diskursus intelektual yang dilakukan di Taswirul Afkar. Organisasi Nahdlatul Wathan ini menjadi sebuah penanda awal kebangkitan yang dilakukan oleh para ulama dan kaum pesantren untuk melawan hegemoni dan penindasan yang selama ini dilakukan oleh para penjajah melalui jalur pendidikan politik dan nasionalisme. Hal ini juga senada dengan turunnya wahyu kedua yang diterima oleh Baginda Nabi SAW, yaitu surat al-Muzammil yang berisi tentang perintah kepada Baginda Nabi untuk bangun dari tidurnya guna melakukan aksi nyata dan memberikan peringatan serta ajakan menuju jalan yang benar kepada masyarakat.

Gerakan intelektual dan penanaman rasa cinta kepada tanah air tidak akan berdampak secara nyata apabila kondisi sosial-ekonomi masyarakat pribumi masih sangat bergantung pada kekuatan modal kapital yang dimiliki oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Oleh karena itu, sebagai antisipasi langkah untuk membentengi masyarakat dari jerat ekonomi kolonial, para kiai kemudian mendirikan koperasi dagang yang kemudian diberi nama Nahdlatut Tujjar. Organisasi yang berfokus pada kemandirian ekonomi ini kemudian menjadi penopang yang sangat penting bagi para kiai dan santri dalam melakukan pergerakan mereka, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran dalam diri mereka terhadap persoalan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dan idealisme yang dimiliki oleh para kiai dan santri menjadi lebih terjaga sebab secara ekonomi telah mandiri dan tidak bergantung pada pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Gerakan ini seolah mereplikasikan misi wahyu ekonomi Rasulullah SAW dalam membangun pasar yang mandiri, adil, dan terbebas dari monopoli asing. Hal ini senada dengan wahyu yang turun pada fase Madaniyah, misal surat an-Nisa’ ayat 29 tentang perdagangan dan surat al-Hasyr ayat 7 tentang pemerataan harta. Artinya, semangat gerakan ekonomi, nampaknya telah mewarnai perjalanan tumbuh dan perkembangan NU sehingga isu-isu kaitan dengan ekonomi menjadi menarik juga bila menjadi salah satu bahasan dalam Muktamar ke-35.

Ketiga tanggung jawab diatas menjadi sangat penting, kaitannya untuk dijadikan sebagai prioritas utama dalam menjalankan roda organisasi yang sangat besar secara kuantitas ini, agar NU dapat bertransformasi dari yang awalnya hanya sekadar kerumunan menjadi kekuatan besar yang layak untuk diperhitungkan atau bahkan disegani oleh seluruh kalangan. Mengingat hasil survei terbaru yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei menunjukkan, sekitar 56,9 hingga 57,2 persen penduduk Indonesia atau sekitar 150-160 juta jiwa mengidentifikasikan diri berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) atau biasa kita sebut Nahdliyyin. Angka tersebut adalah jumlah yang sangat besar untuk ukuran organisasi massa, sehingga dengan jumlah anggota yang sebanyak ini menempatkan NU sebagai ormas Islam dengan basis massa terbesar di Indonesia. Kebesaran ini hanyalah akan menjadi sebuah angka jika para pengurus dan elite organisasi belum bisa memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam organisasi.

Kaitannya dengan momentum titik balik kebangkitan ulama, maka Muktamar pertama di abad kedua ini menjadi sangat penting bagi para pemimpin NU untuk dijadikan sebagai sarana perenungan kembali menuju spirit dan tujuan awal dalam ber-NU. Organisasi ini didirikan dengan semangat dan tujuan yang mulia, yakni untuk menjadi jawaban atas permasalahan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia kala itu dengan melakukan berbagai macam usaha pada berbagai bidang, mulai dari keilmuan hingga urusan perekonomian umat. Tujuan mulia ini semuanya bermuara pada kemaslahatan masyarakat di akar rumput, bukan hanya untuk mencari muka di hadapan penguasa. Untuk mewujudkan titik balik kebangkitan ulama ini, maka NU harus menyadari betul akar sejarahnya sehingga mampu melahirkan kebijakan-kebijakan organisasi yang membawa kemaslahatan bagi 160 juta warganya yang tersebar di seluruh penjuru negeri ini.

Pada akhirnya, momentum muktamar ke-35 ini haruslah mampu menghidupkan kembali ruh dan semangat pengabdian pada kemaslahatan umat yang senantiasa dilandasi oleh fondasi keilmuan yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. NU tanpa fondasi keilmuan dalam setiap keputusannya, bagaikan pohon yang tercerabut dari akarnya. NU tanpa gerakan nyata yang membumi dan membawa kemaslahatan bagi umat, ibarat pohon yang ditebang batangnya. Dan NU tanpa usaha menuju kemandirian ekonomi yang konkret bagi warganya, sama halnya seperti pohon yang tidak mampu berbuah atau berbuah namun hanya dikooptasi oleh sebagian kelompok saja.

Untuk menjadi sebuah pohon yang paripurna, maka NU di abad kedua ini harus mampu mengolaborasikan antara fondasi keilmuan yang kokoh sebagai akar, gerakan nyata yang berbasis pada kebutuhan jam’iyyah (secara khusus) dan jama’ah (secara umum) sebagai batang, dan usaha menuju kemandirian ekonomi yang konkret bagi seluruh warga nahdliyyin sebagai buahnya. Dengan demikian, NU tidak lagi hanya menjadi kerumunan yang berisik di ruang publik, melainkan akan menjadi kekuatan besar yang mampu membawa dampak perubahan yang nyata bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semoga perhelatan Muktamar NU ke-35 yang bertempat di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang pada 27-31 Agustus mendatang, mampu membawa kemaslahatan yang nyata bagi seluruh warga nahdliyyin dimana pun berada dan semoga forum tersebut mampu menjadi titik balik bagi kebangkitan ulama guna menyongsong Indonesia Emas 2045. Aaamiin yaa Rabbal ‘Alamiin.

Sidoarjo, 16 Agustus 2026 M (3 Rabiul Awal 1448 H)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.